RS Santa Elisabeth Ganjuran

Artikel & Berita

Trauma Gigi pada Lansia: Kenali Risiko dan Jenis Cedera yang Dapat Terjadi
kesehatan
2 Juni 2026
0 Kali dibaca

Trauma Gigi pada Lansia: Kenali Risiko dan Jenis Cedera yang Dapat Terjadi

Trauma gigi pada lansia dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari dalam tubuh (intrinsik) maupun dari luar (ekstrinsik).Faktor intrinsik meliputi: Osteoporosis dan penurunan kepadatan tulang yang membuat gigi dan tulang penyangga lebih rapuh.  Gangguan keseimbangan atau gangguan vestibuler yang meningkatkan risiko jatuh.  Penurunan fungsi kognitif, seperti demensia, yang menyebabkan lansia kurang waspada terhadap lingkungan sekitar.  Penyakit Parkinson yang dapat menyebabkan tremor dan gangguan koordinasi tubuh.  Penurunan fungsi penglihatan yang meningkatkan risiko cedera akibat tersandung atau terbentur. Faktor ekstrinsik meliputi: Penggunaan obat antikoagulan atau antiplatelet.  Penggunaan obat penurun tekanan darah yang dapat menyebabkan hipotensi ortostatik.  Konsumsi obat penenang dan obat tidur yang mengganggu keseimbangan.  Polifarmasi atau penggunaan lima jenis obat atau lebih.  Lingkungan yang tidak aman, seperti lantai licin dan pencahayaan yang kurang memadai. Jenis Trauma Dental pada LansiaTrauma gigi pada lansia dapat berupa:1. Fraktur Gigi Ellis Kelas I: hanya mengenai email.  Ellis Kelas II: mengenai email dan dentin.  Ellis Kelas III: melibatkan pulpa.  Fraktur akar, baik vertikal maupun horizontal.  Fraktur mahkota dan akar. 2. Luksasi Konkusi (gigi tidak berpindah tetapi terasa nyeri).  Subluksasi (gigi goyang tanpa perpindahan).  Luksasi ekstrusi (gigi keluar sebagian dari soket).  Luksasi intrusi (gigi masuk ke dalam soket).  Luksasi lateral (gigi bergeser ke samping). 3. Avulsi Gigi terlepas seluruhnya dari soket.  Keberhasilan perawatan sangat dipengaruhi oleh waktu penanganan.  Risiko komplikasi berbeda pada pengguna gigi tiruan maupun implan. Dampak Trauma Dental pada LansiaTrauma gigi yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan: Gangguan mengunyah sehingga asupan nutrisi menurun.  Kesulitan berbicara akibat kehilangan gigi.  Gangguan psikologis, seperti rasa malu, menurunnya kepercayaan diri, dan isolasi sosial.  Nyeri kronis dan risiko infeksi yang dapat memperburuk penyakit penyerta seperti diabetes dan penyakit kardiovaskular. KesimpulanTrauma gigi pada lansia bukan hanya masalah kesehatan gigi dan mulut, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan. Oleh karena itu, mengenali faktor risiko dan jenis trauma dental sejak dini sangat penting agar lansia mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat serta tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan nyaman. Materi: drg. Sukma Paramastri, Sp.KGDokter Spesialis Kesehatan GigiPenerbit: Promosi Kesehatan Rumah Sakit

Edukasi Kesehatan Gigi Lansia: Menjaga Senyum dan Kualitas Hidup di Usia Senja
berita

Pada hari Selasa, 2 Juni 2026, RS Santa Elisabeth Ganjuran menyelenggarakan kegiatan Edukasi Kesehatan Gigi di depan Poliklinik RS Santa Elisabeth Ganjuran mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini menghadirkan narasumber drg. Sukma Paramastri, Sp.KG dan Titi Nur Wahyuni, S.Tr.Kes.Mengusung tema Penatalaksanaan Trauma Dental pada Geriatri dalam Praktik Sehari-hari untuk Meningkatkan Kualitas Hidup dan Peran Terapis Gigi dan Mulut dalam Mempertahankan Fungsi Mastikasi pada Lansia Pasca Trauma, peserta diajak memahami pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut pada usia lanjut.Materi yang disampaikan meliputi faktor risiko cedera gigi pada lansia, penanganan avulsi gigi pada masa golden hour, serta pentingnya mempertahankan fungsi mengunyah untuk mendukung status gizi dan kualitas hidup. Selain itu, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai perawatan gigi dan mulut, demonstrasi menyikat gigi yang benar, serta latihan mastikasi bagi lansia.Melalui kegiatan ini, diharapkan para lansia dan keluarga semakin menyadari bahwa kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian penting dari kesehatan secara menyeluruh, sehingga lansia dapat tetap sehat, nyaman, dan menikmati masa tua dengan kualitas hidup yang lebih baik.https://www.instagram.com/reel/DZG4TX7sMzW/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==Disusun oleh Promosi Kesehatan Rumah Sakit

Miopia pada Anak: Kenali Gejala, Cegah, dan Kendalikan Sejak Dini
kesehatan

Miopia atau rabun jauh merupakan kondisi ketika bayangan benda yang dilihat jatuh di depan retina, sehingga objek yang berada jauh tampak buram. Penderita miopia umumnya membutuhkan lensa minus agar dapat melihat dengan jelas. Saat ini, kasus miopia pada anak semakin meningkat seiring dengan tingginya aktivitas melihat layar dan berkurangnya waktu bermain di luar ruangan. Kenali Gejala MiopiaOrang tua perlu mewaspadai beberapa tanda yang sering muncul pada anak dengan miopia, antara lain: Pandangan jauh tampak buram.  Sering memicingkan mata saat melihat.  Melihat benda dari jarak yang sangat dekat.  Sering mengucek mata.  Mengeluh pusing atau sakit kepala.  Prestasi akademik menurun karena kesulitan melihat tulisan di papan. Pentingnya Deteksi DiniPemeriksaan mata secara rutin sangat penting untuk mendeteksi miopia sejak dini. Skrining kesehatan mata pada anak dianjurkan dilakukan secara berkala, minimal satu kali dalam setahun atau sesuai anjuran dokter mata. Deteksi dini dapat membantu mencegah perburukan mata minus dan mengurangi risiko gangguan penglihatan di masa depan. Cara Mencegah MiopiaBeberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya atau memperlambat perkembangan miopia antara lain: Mengatur pencahayaan ruangan saat membaca atau belajar.  Menjaga jarak baca sekitar satu lengan.  Membatasi penggunaan gawai atau screen time kurang dari dua jam per hari.  Memperbanyak aktivitas di luar ruangan minimal dua jam setiap hari. Pengendalian MiopiaApabila anak telah mengalami miopia, beberapa terapi dapat membantu mengendalikan perkembangannya, seperti penggunaan kacamata khusus kontrol miopia, lensa kontak tertentu, terapi Ortho-K, serta tetes mata yang diresepkan oleh dokter mata. Selain itu, penggunaan alat bantu penglihatan sesuai resep dokter sangat penting agar anak tetap dapat belajar dan beraktivitas dengan nyaman. KesimpulanMiopia bukan sekadar mata minus biasa, tetapi kondisi yang perlu mendapatkan perhatian sejak dini. Dengan mengenali gejala, melakukan pemeriksaan mata secara rutin, menerapkan kebiasaan sehat, dan melakukan pengendalian yang tepat, perkembangan miopia pada anak dapat diminimalkan sehingga kualitas penglihatan dan prestasi belajar anak tetap terjaga. Materi : dr. Sherlyta Tambing, Sp.SDokter Spesialis Syaraf Rumah Sakit Santa Elisabeth Ganjuran-PKRS-

Webinar Nasional "Kolaborasi Profesional dalam Penatalaksanaan Trauma Dental Geriatri untuk Meningkatkan Kualitas Hidup"
kesehatan

Dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada kelompok lanjut usia, pada tanggal 21 Mei 2026 RS Santa Elisabeth menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk “Kolaborasi Profesional dalam Penatalaksanaan Trauma Dental Geriatri untuk Meningkatkan Kualitas Hidup.” Kegiatan ini menjadi wadah ilmiah bagi tenaga kesehatan untuk meningkatkan pemahaman dan kompetensi dalam menerapkan kolaborasi profesional yang efektif pada penatalaksanaan trauma dental geriatri secara komprehensif guna meningkatkan kualitas hidup pasien lanjut usia.Wbinar Nasional.jpg 1.57 MBTrauma dental pada pasien lansia merupakan kondisi yang memerlukan perhatian khusus karena berkaitan erat dengan fungsi mastikasi, fonetik, estetika, hingga kualitas hidup pasien secara menyeluruh. Oleh karena itu, penatalaksanaan yang tepat dan kolaboratif antara dokter gigi umum, dokter gigi spesialis, serta terapis gigi dan mulut menjadi faktor penting dalam menunjang keberhasilan perawatan pasien geriatri.Narasumber ke-1.jpg 1.32 MBPada webinar ini, drg. Paulus Paksi Inggil Lumaksita, M.Biomed selaku Dokter Gigi RS Santa Elisabeth membawakan materi berjudul “Penatalaksanaan Primer Trauma Dental Pasien Geriatri dalam Praktik Sehari-hari untuk Meningkatkan Kualitas Hidup.” Materi tersebut membahas penanganan awal trauma dental pada pasien lansia dalam praktik klinis sehari-hari. Penatalaksanaan primer trauma dental yang cepat, tepat, dan berbasis bukti pada pasien geriatri tidak hanya mempertahankan struktur gigi, tetapi juga menjaga fungsi mastikasi, komunikasi, status nutrisi, interaksi sosial, serta kualitas hidup pasien lanjut usia.Narasumber ke-2.jpg 1.64 MBSelanjutnya, drg. Sukma Paramastri, Sp.KG selaku Dokter Spesialis Konservasi Gigi RS Santa Elisabeth menyampaikan materi “Penatalaksanaan Spesialistik Trauma Dental pada Geriatri.” Dalam sesi ini dipaparkan pendekatan spesialistik dalam menangani trauma dental geriatri, mulai dari proses diagnosis, perawatan konservatif, hingga rehabilitasi fungsi gigi dan rongga mulut pasien lansia.Narasumber ke-3.jpg 1.5 MBMateri berikutnya disampaikan oleh Titi Nur Wahyuni, S.Tr.Kes selaku Terapis Gigi dan Mulut RS Santa Elisabeth dengan topik “Strategi Terapis Gigi dan Mulut dalam Mempertahankan Fungsi Mastikasi dan Fonetik untuk Peningkatan Kualitas Hidup Lansia.” Materi ini menekankan pentingnya peran terapis gigi dan mulut dalam membantu mempertahankan fungsi pengunyahan dan kemampuan berbicara pasien lansia sebagai bagian dari pelayanan kesehatan yang berkelanjutan. Terapis gigi dan mulut memiliki peran strategis dalam intervensi promotif, preventif, dan pemeliharaan fungsi mastikasi serta fonetik pada lansia untuk meningkatkan kualitas hidup.Moderator.jpg 2.03 MBKegiatan webinar dipandu oleh moderator, dr. Citra Kartika, Dokter Umum RS Santa Elisabeth, yang memandu jalannya diskusi secara interaktif dan komunikatif. Webinar nasional ini ditujukan bagi tenaga kesehatan profesi, meliputi dokter gigi, dokter gigi spesialis penyakit mulut, serta terapis gigi dan mulut.MC.jpg 1.83 MBMelalui kegiatan ini, diharapkan peserta dapat memperoleh wawasan ilmiah terkini, meningkatkan kompetensi profesional, serta memperkuat kolaborasi antarprofesi dalam memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang optimal bagi pasien geriatri sehingga dapat mendukung peningkatan kualitas hidup lansia secara menyeluruh.Panitia.jpg 1.32 MBDisusun oleh Promosi Kesehatan Rumah Sakit

Menanam Bahagia di Tengah Badai: Cara Menjaga Mental Tetap Tangguh
kesehatan

Kesehatan mental merupakan kedamaian secara mental, memahami kelebihan dirinya, mampu berpartisipasi terhadap komunitas atau lingkungannya. Seseorang dapat dikatakan sehat mental apabila kondisi fisik, rohani, dan sosialnya mampu sehat secara utuh. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin kita berada dalam keadaan tentram dan tenang, sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan dan menghargai orang lain.Kesehatan mental bersifat dinamis dan memiliki cakupan yang beragam, bukan sekedar satu kondisi yang menetap. Terdapat 3 Jenis Masalah Kesehatan Mental yaitu:1. StressStres adalah keadaan ketika seseorang mengalami tekanan yang sangat berat, baik secara emosi maupun mental.2. Gangguan KecemasanGangguan kecemasan adalah kondisi psikologis ketika seseorang mengalami rasa cemas berlebihan secara konstan dan sulit dikendalikan.3. DepresiDepresi adalah gangguan suasana hati yang menyebabkan penderita terus-menerus merasa sedih hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Cara Menanam Bahagia Saat Situasi SulitMerawat diri sendiri adalah langkah awal yang paling penting. Mental yang tertekan tak cuma merusak kesehatan tubuh, tapi juga bisa memicu guncangan emosional yang berat. Agar tetap tangguh di tengah badai, kita perlu "menanam" kebiasaan-kebiasaan baik dalam keseharian. Jangan khawatir, ada banyak langkah nyata yang bisa kamu ambil sejak saat ini untuk menata kembali dan menjaga kesehatan mental agar tetap stabil, seperti:1. Menerapkan Gaya Hidup Sehat Mulailah memprioritaskan gaya hidup sehat dengan menjaga asupan nutrisi yang seimbang dan rutin berolahraga. Ingatlah bahwa kondisi fisik yang bugar adalah fondasi utama bagi kesehatan mental, di mana tubuh yang terawat akan membantu otak memproduksi hormon kebahagiaan secara alami untuk menghalau stres.2. Kenali Potensi DiriSehat mental dimulai dengan menyadari apa yang kita kuasai. Dengan memahami kelebihan diri, kita memiliki "jangkar" saat kepercayaan diri mulai goyah.3. Keseimbangan Tiga PilarJangan hanya fokus pada fisik (olahraga dan makan), tapi beri nutrisi pada rohani yaitu dengan beribadah atau meditasi dan aspek sosial dengan menjaga hubungan baik dengan orang lain.4. Berbagi dan BerkontribusiSalah satu tanda jiwa yang sehat adalah kemampuan untuk peduli pada sesama. Terlibat dalam kegiatan sosial atau sekadar membantu teman bisa memberikan rasa bermakna yang menjadi sumber kebahagiaan.5. Terima "Cuaca" yang AdaMenjadi tangguh bukan berarti pura-pura bahagia. Akui jika kamu sedang lelah, namun jangan biarkan kelelahan itu menghentikan langkahmu untuk mencari bantuan atau beristirahat.6. Minta BantuanIngatlah bahwa meminta pertolongan saat merasa lelah adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan. Mintalah bantuan dengan cara:Bergabung dengan orang-orang yang dapat membantu merubah cara berpikir dan perilakuMencari tenaga ahli, seperti psikolog atau konselor, untuk membantu mengelola perasaan dan memperbaiki mentalMendatangi layanan setempat terkait masalah yang sedang Anda hadapi, seperti bantuan hukum, keuangan dan lain sebagainya Kesehatan mental adalah investasi jangka panjang. Dengan menjaga keselarasan antara raga, jiwa, dan peran sosial kita, kita sedang membangun benteng yang kokoh. Ingatlah bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang kita tunggu setelah badai berlalu, melainkan sesuatu yang kita tanam dan rawat, bahkan saat hujan masih turun dengan derasnya. “Sudahkah kamu memberikan ruang untuk kedamaian mentalmu hari ini?” Daftar PustakaWorld Health Organization. (2022). Mental health: Strengthening our response. World Health Organization. WHO Mental HealthWorld Health Organization. (2023). Mental disorders. World Health Organization. WHO Anxiety DisordersKementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Stres dan cara mengatasinya. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Info Stress KemenkesKementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Kesehatan jiwa. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kemenkes RI - Kesehatan Jiwa Disusun oleh Promosi Kesehatan Rumah Sakit

Kebersihan Tangan sebagai Kunci Utama Pencegahan Infeksi
kesehatan

Kebersihan tangan merupakan salah satu upaya paling efektif dalam mencegah penyebaran infeksi, baik di fasilitas pelayanan kesehatan maupun di masyarakat. Namun, bukti menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap praktik kebersihan tangan masih belum optimal secara global. Hingga tahun 2018, tingkat kepatuhan rata-rata di unit perawatan intensif mencapai 59,6%, dengan perbedaan yang cukup besar antara negara berpenghasilan tinggi (64,5%) dan negara berpenghasilan rendah (9,1%) (de Kraker et al., 2019).Rendahnya kepatuhan ini menunjukkan pentingnya peningkatan kesadaran dan edukasi mengenai praktik kebersihan tangan yang benar. Salah satu metode yang paling sederhana dan efektif adalah mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.Cuci tangan merupakan proses pembersihan tangan secara mekanis untuk menghilangkan kotoran dan mikroorganisme menggunakan sabun dan air mengalir (WHO, 2009). Meskipun tangan terlihat bersih, berbagai kuman seperti bakteri dan virus tetap dapat menempel setelah beraktivitas sehari-hari.Cuci tangan pakai sabun terbukti efektif dalam mencegah berbagai penyakit, seperti diare dan infeksi saluran pernapasan (CDC, 2022). Menurut Kementerian Kesehatan kebiasaan cuci tangan perlu dilakukan secara rutin, terutama pada waktu-waktu penting seperti:Sebelum dan sesudah makanSetelah menggunakan toiletSetelah batuk atau bersiSetelah menyentuh benda di tempat umum Adapun langkah-langkah mencuci tangan yang benar meliputi:Membasahi tangan dengan air mengalirMenggunakan sabun secukupnyaRatakan sabun dengan kedua telapak tanganGosok punggung dan sela-sela jari tangan kiri dengan tangan kanan dan sebaliknyaGosok kedua telapak dan sela-sela jariGosok ibu jari kiri berputar dalam genggaman tangan kanan dan lakukan sebaliknyaGosokkan dengan memutar ujung jari tangan kanan di telapak tangan kiri dan sebaliknyaBilas dengan air bersih yang mengalirKeringkan tangan anda dengan kain sekali pakai atau tissueDan tangan anda sudah aman.Poster Langkah Cuci TanganKebiasaan mencuci tangan secara rutin tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga orang lain dari risiko penularan penyakit. Dengan demikian, praktik ini menjadi bagian penting dalam upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan.Cuci tangan pakai sabun merupakan tindakan sederhana namun memiliki dampak besar dalam pencegahan penyakit. Meskipun demikian, tingkat kepatuhan terhadap praktik kebersihan tangan masih perlu ditingkatkan melalui edukasi dan sosialisasi yang berkelanjutan. Dengan menerapkan kebiasaan mencuci tangan secara benar dan rutin, diharapkan dapat menurunkan angka kejadian penyakit menular serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Daftar Pustakade Kraker MEA, Tartari E, Tomczyk S, Twyman A, Francioli LC, Cassini A, et al. Implementation of hand hygiene in health-care facilities: results from the WHO Hand Hygiene Self-Assessment Framework global survey 2019. Lancet Infect Dis. 2019.World Health Organization. WHO guidelines on hand hygiene in health care. Geneva: WHO Press; 2009.Centers for Disease Control and Prevention. Handwashing: clean hands save lives. Atlanta: CDC; 2022.Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Jakarta: Kemenkes RI; 2020. Disusun oleh Promosi Kesehatan Rumah Sakit

Edukasi Kesehatan Mata: Mengenal dan Mencegah Miopia (Rabun Jauh)
berita

Pada hari Rabu, 28 April 2026, RS Santa Elisabeth Ganjuran menyelenggarakan kegiatan Edukasi Kesehatan Mata di depan Poliklinik RS Santa Elisabeth Ganjuran mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dr. Sherlyta Tambing, Sp.S.Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan edukasi mengenai miopia atau rabun jauh, mulai dari pengertian, bagaimana kondisi penglihatan pada penderita miopia, klasifikasi, tanda dan gejala, faktor risiko, hingga penanganan dan upaya pencegahannya. Selain itu, peserta juga diberikan informasi mengenai penggunaan alat bantu penglihatan serta pentingnya pengendalian miopia untuk mencegah perburukan gangguan penglihatan.Melalui kegiatan edukasi ini, diharapkan masyarakat dapat lebih mengenali tanda-tanda miopia sejak dini, memahami faktor risiko yang dapat memengaruhi kesehatan mata, serta menerapkan langkah-langkah pencegahan untuk menjaga kesehatan penglihatan dan meningkatkan kualitas hidup.

Malaria: Ancaman yang Masih Nyata — Mengapa Kita Masih Lengah?
kesehatan

Setiap tanggal 25 April, dunia memperingati Hari Malaria Sedunia sebagai pengingat bahwa meskipun penyakit ini telah dikenal sejak lama, malaria masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan global, terutama di negara tropis seperti Indonesia.Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk betina dari genus Anopheles. Ketika nyamuk yang terinfeksi menggigit manusia, parasit masuk ke dalam aliran darah dan kemudian menuju hati sebelum akhirnya menginfeksi sel darah merah. Proses inilah yang menjadi dasar munculnya berbagai gejala klinis malaria.Terdapat beberapa jenis malaria yang dibedakan berdasarkan spesies parasit penyebabnya. Yang paling sering ditemukan adalah Plasmodium falciparum, yang dikenal sebagai penyebab malaria berat dan berpotensi fatal. Selain itu, terdapat Plasmodium vivax, yang sering menyebabkan kekambuhan karena parasit dapat “bersembunyi” di hati dalam bentuk dorman. Jenis lainnya seperti Plasmodium malariae dan Plasmodium ovale umumnya menyebabkan gejala yang lebih ringan, meskipun tetap memerlukan penanganan yang tepat.Gejala malaria seringkali dimulai dengan demam yang muncul secara periodik, disertai menggigil hebat, berkeringat, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan. Pola demam ini khas karena mengikuti siklus pecahnya sel darah merah yang terinfeksi parasit. Pada kasus yang lebih berat, terutama akibat Plasmodium falciparum, kondisi dapat berkembang menjadi komplikasi serius seperti anemia berat, gangguan kesadaran (malaria serebral), gagal ginjal, hingga kematian.Yang membuat malaria tetap berbahaya adalah kemampuannya berkembang cepat bila tidak segera ditangani. Oleh karena itu, diagnosis dini menjadi kunci. Pemeriksaan laboratorium seperti apusan darah tebal dan tipis masih menjadi standar emas untuk mengidentifikasi parasit. Saat ini, rapid diagnostic test (RDT) juga banyak digunakan untuk deteksi cepat di lapangan.Penanganan malaria telah mengalami banyak perkembangan. Terapi utama saat ini adalah penggunaan obat antimalaria berbasis kombinasi artemisinin (ACT), yang terbukti efektif melawan sebagian besar spesies Plasmodium. Pemilihan regimen terapi disesuaikan dengan jenis parasit, tingkat keparahan, serta kondisi pasien. Pada kasus malaria berat, terapi harus diberikan secara intravena di fasilitas kesehatan dengan pemantauan ketat.Namun, pengobatan saja tidak cukup. Upaya pencegahan memegang peranan yang sangat penting dalam menekan angka kejadian malaria. Penggunaan kelambu berinsektisida, penyemprotan rumah dengan insektisida residual, serta pengendalian lingkungan untuk mengurangi tempat berkembang biaknya nyamuk merupakan langkah-langkah yang telah terbukti efektif. Selain itu, penggunaan obat profilaksis pada kelompok berisiko tinggi juga dapat dipertimbangkan.Di tingkat global, World Health Organization melaporkan bahwa ratusan juta kasus malaria masih terjadi setiap tahunnya, dengan angka kematian yang signifikan, terutama pada anak-anak di wilayah Afrika Sub-Sahara. Indonesia sendiri masih menghadapi tantangan dalam eliminasi malaria, meskipun beberapa daerah telah berhasil mencapai status bebas malaria.Kondisi lingkungan, perubahan iklim, mobilitas penduduk, serta resistensi terhadap obat dan insektisida menjadi faktor yang terus mempersulit upaya pengendalian malaria. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan harus bersifat komprehensif, melibatkan sektor kesehatan, lingkungan, dan masyarakat.Hari Malaria Sedunia bukan hanya sekadar peringatan, tetapi juga ajakan untuk terus meningkatkan kesadaran dan komitmen dalam melawan penyakit ini. Malaria bukanlah penyakit masa lalu. Ia masih ada, masih mengancam, dan masih membutuhkan perhatian kita semua.Malaria tidak menunggu. Maka kesadaran, pencegahan, dan tindakan kita juga tidak boleh terlambat.drg. Sukma Paramastri, Sp.KGPKRS

Hari Bising Sedunia: Ketika Suara Tak Lagi Sekedar Suara
kesehatan

Setiap tahun, dunia memperingati Hari Bising Sedunia sebagai pengingat bahwa suara yang sering kita anggap biasa dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan jika melebihi batas aman. Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi kendaraan, mesin, musik keras, hingga aktivitas industri, paparan bising telah menjadi bagian dari keseharian yang sering diabaikan.Secara ilmiah, bising didefinisikan sebagai suara yang tidak diinginkan dan berpotensi mengganggu kesehatan serta kenyamanan. Tidak semua suara berbahaya, tetapi ketika intensitasnya tinggi dan berlangsung lama, dampaknya bisa melampaui sekadar gangguan—bahkan hingga merusak fungsi tubuh.Apa Itu Bising dan Bagaimana Dampaknya?     Bising diukur dalam satuan desibel (dB). Organisasi seperti World Health Organization menetapkan bahwa paparan suara di atas 85 dB dalam waktu lama dapat menyebabkan gangguan pendengaran.Namun, dampak bising tidak hanya terbatas pada telinga. Paparan kronis dapat memengaruhi:• Sistem saraf (menyebabkan stres dan kecemasan)• Sistem kardiovaskular (meningkatkan risiko hipertensi)• Kualitas tidur (gangguan tidur kronis)• Konsentrasi dan produktivitasDengan kata lain, bising adalah masalah kesehatan sistemik, bukan hanya gangguan lokal pada telinga.Jenis-Jenis BisingBising dapat diklasifikasikan berdasarkan karakteristiknya:1. Bising kontinuSuara yang berlangsung terus-menerus, seperti mesin industri.2. Bising intermitenSuara yang muncul dan hilang, seperti lalu lintas kendaraan.3. Bising impulsifSuara mendadak dengan intensitas tinggi, seperti ledakan atau petasan.4. Bising frekuensi rendah dan tinggiMasing-masing memiliki dampak berbeda terhadap persepsi dan kenyamanan manusia.Kondisi Klinis Akibat Bising     Paparan bising yang berlebihan dapat menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai Noise-Induced Hearing Loss (NIHL), yaitu gangguan pendengaran akibat kerusakan sel rambut di koklea yang bersifat permanen.Gejala awal sering kali tidak disadari, seperti:• Telinga berdenging (tinnitus)• Kesulitan mendengar percakapan di tempat ramai• Penurunan sensitivitas terhadap suara frekuensi tinggiJika paparan terus berlanjut, kerusakan menjadi irreversibel.Seberapa Besar Masalah Ini?Menurut data global dari World Health Organization:• Lebih dari 1 miliar remaja dan dewasa muda berisiko mengalami gangguan pendengaran akibat paparan bising• Sekitar 430 juta orang di dunia hidup dengan gangguan pendengaran yang signifikan• Paparan bising lingkungan (lalu lintas, urbanisasi) menjadi salah satu faktor utamaDi negara berkembang, termasuk Indonesia, angka ini berpotensi lebih tinggi karena kurangnya kesadaran dan perlindungan terhadap paparan bising.Penanganan dan ManajemenPenanganan gangguan akibat bising bergantung pada tingkat keparahan:1. Deteksi dinio Pemeriksaan audiometrio Skrining pada populasi berisiko2. Intervensi mediso Terapi suportifo Alat bantu dengar pada kasus berat3. Rehabilitasio Pelatihan komunikasio Edukasi pasienNamun perlu dipahami, pada banyak kasus, kerusakan pendengaran akibat bising tidak dapat dipulihkan sepenuhnya.Antisipasi dan PencegahanPencegahan adalah kunci utama. Beberapa langkah yang dapat dilakukan:• Menggunakan pelindung telinga (earplug/earmuff) di lingkungan bising• Membatasi penggunaan earphone dengan volume tinggi• Mengatur durasi paparan suara• Menerapkan regulasi kebisingan di lingkungan kerja• Edukasi masyarakat sejak diniKonsep sederhana yang sering digunakan adalah aturan 60/60: mendengarkan audio maksimal 60% volume selama tidak lebih dari 60 menit.Makna Hari Bising Sedunia     Hari Bising Sedunia bukan hanya tentang mengurangi suara, tetapi tentang menjaga kualitas hidup. Di era modern, kita tidak bisa sepenuhnya menghindari bising, tetapi kita bisa mengelolanya.     Kesadaran menjadi langkah pertama. Karena sering kali, kerusakan terjadi bukan karena kita tidak tahu, tetapi karena kita tidak menyadari dampaknya sejak awal.     Bising mungkin tidak terlihat, tetapi dampaknya nyata dan dapat berlangsung seumur hidup. Setiap suara yang terlalu keras, setiap paparan yang terlalu lama, perlahan mengikis kemampuan kita untuk mendengar dunia dengan jelas."Hari ini, kita punya pilihan: mengabaikan, atau mulai melindungi. Karena menjaga pendengaran bukan hanya tentang telinga tetapi tentang mempertahankan kualitas hidup, komunikasi, dan koneksi kita dengan dunia di sekitar."drg. Sukma Paramastri, Sp.KGPKRS

SebelumnyaHalaman 5 dari 9Selanjutnya