Artikel & Berita

Webinar Nasional "Kolaborasi Profesional dalam Penatalaksanaan Trauma Dental Geriatri untuk Meningkatkan Kualitas Hidup"
Dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada kelompok lanjut usia, pada tanggal 21 Mei 2026 RS Santa Elisabeth menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk “Kolaborasi Profesional dalam Penatalaksanaan Trauma Dental Geriatri untuk Meningkatkan Kualitas Hidup.” Kegiatan ini menjadi wadah ilmiah bagi tenaga kesehatan untuk meningkatkan pemahaman dan kompetensi dalam menerapkan kolaborasi profesional yang efektif pada penatalaksanaan trauma dental geriatri secara komprehensif guna meningkatkan kualitas hidup pasien lanjut usia.Wbinar Nasional.jpg 1.57 MBTrauma dental pada pasien lansia merupakan kondisi yang memerlukan perhatian khusus karena berkaitan erat dengan fungsi mastikasi, fonetik, estetika, hingga kualitas hidup pasien secara menyeluruh. Oleh karena itu, penatalaksanaan yang tepat dan kolaboratif antara dokter gigi umum, dokter gigi spesialis, serta terapis gigi dan mulut menjadi faktor penting dalam menunjang keberhasilan perawatan pasien geriatri.Narasumber ke-1.jpg 1.32 MBPada webinar ini, drg. Paulus Paksi Inggil Lumaksita, M.Biomed selaku Dokter Gigi RS Santa Elisabeth membawakan materi berjudul “Penatalaksanaan Primer Trauma Dental Pasien Geriatri dalam Praktik Sehari-hari untuk Meningkatkan Kualitas Hidup.” Materi tersebut membahas penanganan awal trauma dental pada pasien lansia dalam praktik klinis sehari-hari. Penatalaksanaan primer trauma dental yang cepat, tepat, dan berbasis bukti pada pasien geriatri tidak hanya mempertahankan struktur gigi, tetapi juga menjaga fungsi mastikasi, komunikasi, status nutrisi, interaksi sosial, serta kualitas hidup pasien lanjut usia.Narasumber ke-2.jpg 1.64 MBSelanjutnya, drg. Sukma Paramastri, Sp.KG selaku Dokter Spesialis Konservasi Gigi RS Santa Elisabeth menyampaikan materi “Penatalaksanaan Spesialistik Trauma Dental pada Geriatri.” Dalam sesi ini dipaparkan pendekatan spesialistik dalam menangani trauma dental geriatri, mulai dari proses diagnosis, perawatan konservatif, hingga rehabilitasi fungsi gigi dan rongga mulut pasien lansia.Narasumber ke-3.jpg 1.5 MBMateri berikutnya disampaikan oleh Titi Nur Wahyuni, S.Tr.Kes selaku Terapis Gigi dan Mulut RS Santa Elisabeth dengan topik “Strategi Terapis Gigi dan Mulut dalam Mempertahankan Fungsi Mastikasi dan Fonetik untuk Peningkatan Kualitas Hidup Lansia.” Materi ini menekankan pentingnya peran terapis gigi dan mulut dalam membantu mempertahankan fungsi pengunyahan dan kemampuan berbicara pasien lansia sebagai bagian dari pelayanan kesehatan yang berkelanjutan. Terapis gigi dan mulut memiliki peran strategis dalam intervensi promotif, preventif, dan pemeliharaan fungsi mastikasi serta fonetik pada lansia untuk meningkatkan kualitas hidup.Moderator.jpg 2.03 MBKegiatan webinar dipandu oleh moderator, dr. Citra Kartika, Dokter Umum RS Santa Elisabeth, yang memandu jalannya diskusi secara interaktif dan komunikatif. Webinar nasional ini ditujukan bagi tenaga kesehatan profesi, meliputi dokter gigi, dokter gigi spesialis penyakit mulut, serta terapis gigi dan mulut.MC.jpg 1.83 MBMelalui kegiatan ini, diharapkan peserta dapat memperoleh wawasan ilmiah terkini, meningkatkan kompetensi profesional, serta memperkuat kolaborasi antarprofesi dalam memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang optimal bagi pasien geriatri sehingga dapat mendukung peningkatan kualitas hidup lansia secara menyeluruh.Panitia.jpg 1.32 MB-PKRS

Kesehatan mental merupakan kedamaian secara mental, memahami kelebihan dirinya, mampu berpartisipasi terhadap komunitas atau lingkungannya. Seseorang dapat dikatakan sehat mental apabila kondisi fisik, rohani, dan sosialnya mampu sehat secara utuh. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin kita berada dalam keadaan tentram dan tenang, sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan dan menghargai orang lain.Kesehatan mental bersifat dinamis dan memiliki cakupan yang beragam, bukan sekedar satu kondisi yang menetap. Terdapat 3 Jenis Masalah Kesehatan Mental yaitu:1. StressStres adalah keadaan ketika seseorang mengalami tekanan yang sangat berat, baik secara emosi maupun mental.2. Gangguan KecemasanGangguan kecemasan adalah kondisi psikologis ketika seseorang mengalami rasa cemas berlebihan secara konstan dan sulit dikendalikan.3. DepresiDepresi adalah gangguan suasana hati yang menyebabkan penderita terus-menerus merasa sedih hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Cara Menanam Bahagia Saat Situasi SulitMerawat diri sendiri adalah langkah awal yang paling penting. Mental yang tertekan tak cuma merusak kesehatan tubuh, tapi juga bisa memicu guncangan emosional yang berat. Agar tetap tangguh di tengah badai, kita perlu "menanam" kebiasaan-kebiasaan baik dalam keseharian. Jangan khawatir, ada banyak langkah nyata yang bisa kamu ambil sejak saat ini untuk menata kembali dan menjaga kesehatan mental agar tetap stabil, seperti:1. Menerapkan Gaya Hidup Sehat Mulailah memprioritaskan gaya hidup sehat dengan menjaga asupan nutrisi yang seimbang dan rutin berolahraga. Ingatlah bahwa kondisi fisik yang bugar adalah fondasi utama bagi kesehatan mental, di mana tubuh yang terawat akan membantu otak memproduksi hormon kebahagiaan secara alami untuk menghalau stres.2. Kenali Potensi DiriSehat mental dimulai dengan menyadari apa yang kita kuasai. Dengan memahami kelebihan diri, kita memiliki "jangkar" saat kepercayaan diri mulai goyah.3. Keseimbangan Tiga PilarJangan hanya fokus pada fisik (olahraga dan makan), tapi beri nutrisi pada rohani yaitu dengan beribadah atau meditasi dan aspek sosial dengan menjaga hubungan baik dengan orang lain.4. Berbagi dan BerkontribusiSalah satu tanda jiwa yang sehat adalah kemampuan untuk peduli pada sesama. Terlibat dalam kegiatan sosial atau sekadar membantu teman bisa memberikan rasa bermakna yang menjadi sumber kebahagiaan.5. Terima "Cuaca" yang AdaMenjadi tangguh bukan berarti pura-pura bahagia. Akui jika kamu sedang lelah, namun jangan biarkan kelelahan itu menghentikan langkahmu untuk mencari bantuan atau beristirahat.6. Minta BantuanIngatlah bahwa meminta pertolongan saat merasa lelah adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan. Mintalah bantuan dengan cara:Bergabung dengan orang-orang yang dapat membantu merubah cara berpikir dan perilakuMencari tenaga ahli, seperti psikolog atau konselor, untuk membantu mengelola perasaan dan memperbaiki mentalMendatangi layanan setempat terkait masalah yang sedang Anda hadapi, seperti bantuan hukum, keuangan dan lain sebagainya Kesehatan mental adalah investasi jangka panjang. Dengan menjaga keselarasan antara raga, jiwa, dan peran sosial kita, kita sedang membangun benteng yang kokoh. Ingatlah bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang kita tunggu setelah badai berlalu, melainkan sesuatu yang kita tanam dan rawat, bahkan saat hujan masih turun dengan derasnya. “Sudahkah kamu memberikan ruang untuk kedamaian mentalmu hari ini?” Daftar PustakaWorld Health Organization. (2022). Mental health: Strengthening our response. World Health Organization. WHO Mental HealthWorld Health Organization. (2023). Mental disorders. World Health Organization. WHO Anxiety DisordersKementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Stres dan cara mengatasinya. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Info Stress KemenkesKementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Kesehatan jiwa. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kemenkes RI - Kesehatan Jiwa -PKRS

Kebersihan tangan merupakan salah satu upaya paling efektif dalam mencegah penyebaran infeksi, baik di fasilitas pelayanan kesehatan maupun di masyarakat. Namun, bukti menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap praktik kebersihan tangan masih belum optimal secara global. Hingga tahun 2018, tingkat kepatuhan rata-rata di unit perawatan intensif mencapai 59,6%, dengan perbedaan yang cukup besar antara negara berpenghasilan tinggi (64,5%) dan negara berpenghasilan rendah (9,1%) (de Kraker et al., 2019).Rendahnya kepatuhan ini menunjukkan pentingnya peningkatan kesadaran dan edukasi mengenai praktik kebersihan tangan yang benar. Salah satu metode yang paling sederhana dan efektif adalah mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.Cuci tangan merupakan proses pembersihan tangan secara mekanis untuk menghilangkan kotoran dan mikroorganisme menggunakan sabun dan air mengalir (WHO, 2009). Meskipun tangan terlihat bersih, berbagai kuman seperti bakteri dan virus tetap dapat menempel setelah beraktivitas sehari-hari.Cuci tangan pakai sabun terbukti efektif dalam mencegah berbagai penyakit, seperti diare dan infeksi saluran pernapasan (CDC, 2022). Menurut Kementerian Kesehatan kebiasaan cuci tangan perlu dilakukan secara rutin, terutama pada waktu-waktu penting seperti:Sebelum dan sesudah makanSetelah menggunakan toiletSetelah batuk atau bersiSetelah menyentuh benda di tempat umum Adapun langkah-langkah mencuci tangan yang benar meliputi:Membasahi tangan dengan air mengalirMenggunakan sabun secukupnyaRatakan sabun dengan kedua telapak tanganGosok punggung dan sela-sela jari tangan kiri dengan tangan kanan dan sebaliknyaGosok kedua telapak dan sela-sela jariGosok ibu jari kiri berputar dalam genggaman tangan kanan dan lakukan sebaliknyaGosokkan dengan memutar ujung jari tangan kanan di telapak tangan kiri dan sebaliknyaBilas dengan air bersih yang mengalirKeringkan tangan anda dengan kain sekali pakai atau tissueDan tangan anda sudah aman.Poster Langkah Cuci TanganKebiasaan mencuci tangan secara rutin tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga orang lain dari risiko penularan penyakit. Dengan demikian, praktik ini menjadi bagian penting dalam upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan.Cuci tangan pakai sabun merupakan tindakan sederhana namun memiliki dampak besar dalam pencegahan penyakit. Meskipun demikian, tingkat kepatuhan terhadap praktik kebersihan tangan masih perlu ditingkatkan melalui edukasi dan sosialisasi yang berkelanjutan. Dengan menerapkan kebiasaan mencuci tangan secara benar dan rutin, diharapkan dapat menurunkan angka kejadian penyakit menular serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Daftar Pustakade Kraker MEA, Tartari E, Tomczyk S, Twyman A, Francioli LC, Cassini A, et al. Implementation of hand hygiene in health-care facilities: results from the WHO Hand Hygiene Self-Assessment Framework global survey 2019. Lancet Infect Dis. 2019.World Health Organization. WHO guidelines on hand hygiene in health care. Geneva: WHO Press; 2009.Centers for Disease Control and Prevention. Handwashing: clean hands save lives. Atlanta: CDC; 2022.Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Jakarta: Kemenkes RI; 2020. -PKRS

Setiap tanggal 25 April, dunia memperingati Hari Malaria Sedunia sebagai pengingat bahwa meskipun penyakit ini telah dikenal sejak lama, malaria masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan global, terutama di negara tropis seperti Indonesia.Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk betina dari genus Anopheles. Ketika nyamuk yang terinfeksi menggigit manusia, parasit masuk ke dalam aliran darah dan kemudian menuju hati sebelum akhirnya menginfeksi sel darah merah. Proses inilah yang menjadi dasar munculnya berbagai gejala klinis malaria.Terdapat beberapa jenis malaria yang dibedakan berdasarkan spesies parasit penyebabnya. Yang paling sering ditemukan adalah Plasmodium falciparum, yang dikenal sebagai penyebab malaria berat dan berpotensi fatal. Selain itu, terdapat Plasmodium vivax, yang sering menyebabkan kekambuhan karena parasit dapat “bersembunyi” di hati dalam bentuk dorman. Jenis lainnya seperti Plasmodium malariae dan Plasmodium ovale umumnya menyebabkan gejala yang lebih ringan, meskipun tetap memerlukan penanganan yang tepat.Gejala malaria seringkali dimulai dengan demam yang muncul secara periodik, disertai menggigil hebat, berkeringat, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan. Pola demam ini khas karena mengikuti siklus pecahnya sel darah merah yang terinfeksi parasit. Pada kasus yang lebih berat, terutama akibat Plasmodium falciparum, kondisi dapat berkembang menjadi komplikasi serius seperti anemia berat, gangguan kesadaran (malaria serebral), gagal ginjal, hingga kematian.Yang membuat malaria tetap berbahaya adalah kemampuannya berkembang cepat bila tidak segera ditangani. Oleh karena itu, diagnosis dini menjadi kunci. Pemeriksaan laboratorium seperti apusan darah tebal dan tipis masih menjadi standar emas untuk mengidentifikasi parasit. Saat ini, rapid diagnostic test (RDT) juga banyak digunakan untuk deteksi cepat di lapangan.Penanganan malaria telah mengalami banyak perkembangan. Terapi utama saat ini adalah penggunaan obat antimalaria berbasis kombinasi artemisinin (ACT), yang terbukti efektif melawan sebagian besar spesies Plasmodium. Pemilihan regimen terapi disesuaikan dengan jenis parasit, tingkat keparahan, serta kondisi pasien. Pada kasus malaria berat, terapi harus diberikan secara intravena di fasilitas kesehatan dengan pemantauan ketat.Namun, pengobatan saja tidak cukup. Upaya pencegahan memegang peranan yang sangat penting dalam menekan angka kejadian malaria. Penggunaan kelambu berinsektisida, penyemprotan rumah dengan insektisida residual, serta pengendalian lingkungan untuk mengurangi tempat berkembang biaknya nyamuk merupakan langkah-langkah yang telah terbukti efektif. Selain itu, penggunaan obat profilaksis pada kelompok berisiko tinggi juga dapat dipertimbangkan.Di tingkat global, World Health Organization melaporkan bahwa ratusan juta kasus malaria masih terjadi setiap tahunnya, dengan angka kematian yang signifikan, terutama pada anak-anak di wilayah Afrika Sub-Sahara. Indonesia sendiri masih menghadapi tantangan dalam eliminasi malaria, meskipun beberapa daerah telah berhasil mencapai status bebas malaria.Kondisi lingkungan, perubahan iklim, mobilitas penduduk, serta resistensi terhadap obat dan insektisida menjadi faktor yang terus mempersulit upaya pengendalian malaria. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan harus bersifat komprehensif, melibatkan sektor kesehatan, lingkungan, dan masyarakat.Hari Malaria Sedunia bukan hanya sekadar peringatan, tetapi juga ajakan untuk terus meningkatkan kesadaran dan komitmen dalam melawan penyakit ini. Malaria bukanlah penyakit masa lalu. Ia masih ada, masih mengancam, dan masih membutuhkan perhatian kita semua.Malaria tidak menunggu. Maka kesadaran, pencegahan, dan tindakan kita juga tidak boleh terlambat.drg. Sukma Paramastri, Sp.KGPKRS

Setiap tahun, dunia memperingati Hari Bising Sedunia sebagai pengingat bahwa suara yang sering kita anggap biasa dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan jika melebihi batas aman. Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi kendaraan, mesin, musik keras, hingga aktivitas industri, paparan bising telah menjadi bagian dari keseharian yang sering diabaikan.Secara ilmiah, bising didefinisikan sebagai suara yang tidak diinginkan dan berpotensi mengganggu kesehatan serta kenyamanan. Tidak semua suara berbahaya, tetapi ketika intensitasnya tinggi dan berlangsung lama, dampaknya bisa melampaui sekadar gangguan—bahkan hingga merusak fungsi tubuh.Apa Itu Bising dan Bagaimana Dampaknya? Bising diukur dalam satuan desibel (dB). Organisasi seperti World Health Organization menetapkan bahwa paparan suara di atas 85 dB dalam waktu lama dapat menyebabkan gangguan pendengaran.Namun, dampak bising tidak hanya terbatas pada telinga. Paparan kronis dapat memengaruhi:• Sistem saraf (menyebabkan stres dan kecemasan)• Sistem kardiovaskular (meningkatkan risiko hipertensi)• Kualitas tidur (gangguan tidur kronis)• Konsentrasi dan produktivitasDengan kata lain, bising adalah masalah kesehatan sistemik, bukan hanya gangguan lokal pada telinga.Jenis-Jenis BisingBising dapat diklasifikasikan berdasarkan karakteristiknya:1. Bising kontinuSuara yang berlangsung terus-menerus, seperti mesin industri.2. Bising intermitenSuara yang muncul dan hilang, seperti lalu lintas kendaraan.3. Bising impulsifSuara mendadak dengan intensitas tinggi, seperti ledakan atau petasan.4. Bising frekuensi rendah dan tinggiMasing-masing memiliki dampak berbeda terhadap persepsi dan kenyamanan manusia.Kondisi Klinis Akibat Bising Paparan bising yang berlebihan dapat menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai Noise-Induced Hearing Loss (NIHL), yaitu gangguan pendengaran akibat kerusakan sel rambut di koklea yang bersifat permanen.Gejala awal sering kali tidak disadari, seperti:• Telinga berdenging (tinnitus)• Kesulitan mendengar percakapan di tempat ramai• Penurunan sensitivitas terhadap suara frekuensi tinggiJika paparan terus berlanjut, kerusakan menjadi irreversibel.Seberapa Besar Masalah Ini?Menurut data global dari World Health Organization:• Lebih dari 1 miliar remaja dan dewasa muda berisiko mengalami gangguan pendengaran akibat paparan bising• Sekitar 430 juta orang di dunia hidup dengan gangguan pendengaran yang signifikan• Paparan bising lingkungan (lalu lintas, urbanisasi) menjadi salah satu faktor utamaDi negara berkembang, termasuk Indonesia, angka ini berpotensi lebih tinggi karena kurangnya kesadaran dan perlindungan terhadap paparan bising.Penanganan dan ManajemenPenanganan gangguan akibat bising bergantung pada tingkat keparahan:1. Deteksi dinio Pemeriksaan audiometrio Skrining pada populasi berisiko2. Intervensi mediso Terapi suportifo Alat bantu dengar pada kasus berat3. Rehabilitasio Pelatihan komunikasio Edukasi pasienNamun perlu dipahami, pada banyak kasus, kerusakan pendengaran akibat bising tidak dapat dipulihkan sepenuhnya.Antisipasi dan PencegahanPencegahan adalah kunci utama. Beberapa langkah yang dapat dilakukan:• Menggunakan pelindung telinga (earplug/earmuff) di lingkungan bising• Membatasi penggunaan earphone dengan volume tinggi• Mengatur durasi paparan suara• Menerapkan regulasi kebisingan di lingkungan kerja• Edukasi masyarakat sejak diniKonsep sederhana yang sering digunakan adalah aturan 60/60: mendengarkan audio maksimal 60% volume selama tidak lebih dari 60 menit.Makna Hari Bising Sedunia Hari Bising Sedunia bukan hanya tentang mengurangi suara, tetapi tentang menjaga kualitas hidup. Di era modern, kita tidak bisa sepenuhnya menghindari bising, tetapi kita bisa mengelolanya. Kesadaran menjadi langkah pertama. Karena sering kali, kerusakan terjadi bukan karena kita tidak tahu, tetapi karena kita tidak menyadari dampaknya sejak awal. Bising mungkin tidak terlihat, tetapi dampaknya nyata dan dapat berlangsung seumur hidup. Setiap suara yang terlalu keras, setiap paparan yang terlalu lama, perlahan mengikis kemampuan kita untuk mendengar dunia dengan jelas."Hari ini, kita punya pilihan: mengabaikan, atau mulai melindungi. Karena menjaga pendengaran bukan hanya tentang telinga tetapi tentang mempertahankan kualitas hidup, komunikasi, dan koneksi kita dengan dunia di sekitar."drg. Sukma Paramastri, Sp.KGPKRS
Dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, telah diselenggarakan Webinar Nasional dengan tema “Tata Laksana Acute Coronary Syndrome (ACS)” pada Rabu, 15 April 2026 secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini ditujukan bagi tenaga kesehatan yang meliputi dokter umum, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, serta perawat. Webinar ini menjadi sarana edukasi dan pengembangan kompetensi dalam penanganan pasien Acute Coronary Syndrome (ACS) secara komprehensif dan berbasis bukti ilmiah.Profil Webinar ACS.JPG 2.26 MB Acute Coronary Syndrome (ACS) merupakan kondisi kegawatdaruratan yang memerlukan penanganan cepat, tepat, dan terintegrasi guna menurunkan angka morbiditas dan mortalitas. Oleh karena itu, pemahaman yang baik terkait tata laksana medis dan asuhan keperawatan sangat diperlukan. Materi pertama disampaikan oleh dr. Steven Setiawan, Sp.JP selaku Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan mengenai ACS, Etiologi ACS, Faktor Risiko ACS, Patofisiologi ACS, Konsep Golden Time pada ACS, Manifestasi Klinis ACS, Diagnosis Dini dalam Golden Timen, Penatalaksanaa ACS. Ditekankan pentingnya prinsip time is muscle, di mana kecepatan penanganan sangat menentukan prognosis pasien. Selain itu, dibahas pula terapi farmakologis serta tindakan reperfusi sebagai bagian utama dalam penanganan ACS. Selanjutnya, Eva Marti, S.Kep., Ns., M.Kep, dosen STIKes Panti Rapih Yogyakarta, menyampaikan materi terkait penerapan evidence-based nursing (EBN) melalui asuhan keperawatan berbasis pendekatan 4S, yaitu SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia), serta SPO (Standar Prosedur Operasional) pada pasien ACS. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan mutu asuhan keperawatan yang sistematis, terukur, dan sesuai standar. Materi ketiga disampaikan oleh Agustina Rahmawati, S.Kep., Ns, perawat dari RS Santa Elisabeth, yang membahas penerapan evidence-based nursing melalui teknik thermotherapy untuk membantu mengurangi nyeri dada pada pasien dengan ACS. Intervensi ini merupakan salah satu terapi non-farmakologis yang dapat digunakan sebagai upaya pendukung dalam meningkatkan kenyamanan pasien. Kegiatan ini dipandu oleh moderator Siska Mastifa, S.Kep., Ns, perawat dari RS Santa Elisabeth, yang memastikan jalannya diskusi berlangsung interaktif dan terarah. Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya sesi tanya jawab yang menunjukkan tingginya minat terhadap topik yang dibahas.Webinar ACS (1).JPG 2.34 MB Melalui kegiatan webinar ini, diharapkan tenaga kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam penanganan Acute Coronary Syndrome secara cepat, tepat, dan berbasis bukti, sehingga mampu memberikan pelayanan kesehatan yang optimal dan berkualitas bagi masyarakat.PKRS

Misa Syukur HUT ke-96 RS Santa Elisabeth: Teman Seperjalanan dalam Pelayanan Penuh Kasih
Pada tanggal 4 April 2026, Rumah Sakit Santa Elisabeth merayakan hari ulang tahun ke-96, sebagai bentuk dedikasi panjang dalam melayani masyarakat. Mensyukuri perjalanan tersebut, RS Santa Elisabeth menyelenggarakan acara Puncak perayaan pada 10 April 2026 dengan mengusung tema “Teman Seperjalanan dalam Pelayanan Penuh Kasih”. Acara ini dihadiri oleh perwakilan dari RS Panti Rapih, RS Panti Rahayu, RS Panti Rini, RS Panti Nugroho, STIKes Panti Rapih serta segenap staf, karyawan, dan tamu undangan yang telah menjadi bagian dari sejarah perjalanan rumah sakit.Perayaan Ekaristi Misa Syukur.JPG 1.18 MBRangkaian acara dibuka dengan Perayaan Ekaristi Misa Syukur yang berlangsung secara khidmat, dan dipimpin oleh Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Agung Semarang, Romo FX. Sugiyana, Pr, dengan didampingi oleh Romo Paroki Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran, Romo Yakobus Sudarmadi, Pr.Penghargaan 25 tahun berkarya.JPG 1.21 MBMemasuki sesi ramah tamah, Direktur RS Santa Elisabeth menyampaikan sambutannya yang merefleksikan perjalanan panjang rumah sakit. Salah satu momen yang paling dinantikan adalah pemberian Penghargaan bagi karyawan yang telah mendedikasikan hidupnya selama 25 tahun berkarya. Penghargaan berupa penyematan lencana, penyerahan SK, dan logam mulia kepada dr. Tandean Arif Wibowo, M.P.H., Ibu Erni Widiastuti, dan Ibu M.V. Dyah Taufika Sari, AMD.Farm. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Ketua Pengurus Yayasan Panti Rapih, Ir. Ambrosius Koesmargono, MCM, Ph.D., dan didampingi oleh Sekretaris Pengurus Yayasan, Sr. Birgitta Diah Yuliati, CB, M.P.H.Simbolis Potong Tumpeng.JPG 1.15 MBSebagai ungkapan syukur yang utama, dilakukan prosesi Pemotongan tumpeng oleh Romo Romo Yakobus Sudarmadi, Pr bersama Ir. Ambrosius Koesmargono, MCM, Ph.D. Potongan tumpeng tersebut diserahkan secara simbolis kepada Direktur RS Santa Elisabeth, dr. Tandean Arif Wibowo, M.P.H., dan Wakil Direktur, Sr. Adelaida Somi CB, BSN yang disambut dengan tepuk tangan meriah dari seluruh hadirin.Pemenang Lomba HUT RS Santa Elisabeth.JPG 1.09 MBSuasana kebersamaan semakin lengkap saat seluruh undangan menikmati hidangan bersama sembari berbincang akrab, memperkuat ikatan persaudaraan antar unit dan antar karyawan. Menjelang akhir acara, keceriaan memuncak saat panitia membagikan hadiah bagi para Pemenang lomba yang telah digelar untuk menyemarakkan HUT ke-96 ini.Kebersamaan.jpg 5.23 MBPerayaan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum bagi RS Santa Elisabeth untuk memperbarui komitmennya. Dengan semangat yang baru, RS Santa Elisabeth siap melangkah maju untuk terus menjadi teman seperjalanan bagi masyarakat dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang bermutu, tulus, dan penuh kasih demi peningkatan kualitas hidup sesama. PKRS

Langkah Sehat di Bawah Langit Pagi
Pagi ini terasa berbeda. Udara segar menyambut langkah-langkah penuh semangat para peserta kebugaran yang berkumpul sejak matahari mulai naik perlahan di ufuk timur. Senyum, tawa, dan sapaan hangat menjadi pembuka yang sederhana namun penuh makna—hari ini bukan sekadar tentang olahraga, tetapi tentang kebersamaan dan komitmen menjaga kesehatan.11-edited.jpeg 141.46 KBKegiatan diawali dengan pemeriksaan kesehatan sederhana. Beberapa peserta tampak memeriksa tekanan darah dan denyut nadi, memastikan tubuh dalam kondisi prima sebelum beraktivitas. Suasana di dalam ruangan penuh interaksi hangat—saling membantu, saling mendukung, dan saling mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan sebagai investasi jangka panjang.Setelah itu, langkah kaki mulai menyusuri jalanan yang masih basah oleh embun pagi. Hamparan hijau persawahan dan langit biru yang cerah menjadi latar sempurna untuk bergerak aktif. Ada yang berjalan santai, ada yang berlari kecil, semuanya dengan ritme dan kemampuan masing-masing. Yang terpenting bukanlah seberapa cepat melangkah, tetapi bagaimana setiap orang berusaha konsisten menjaga kebugaran.23-776x1024.jpeg 159.21 KBDi tengah perjalanan, semangat semakin terasa. Beberapa peserta tersenyum lebar sambil melambaikan tangan ke arah kamera, sebagian lainnya tetap fokus menjaga napas dan langkah. Energi positif menyebar, menciptakan suasana yang menyenangkan dan membangun motivasi bersama. Aktivitas fisik di alam terbuka seperti ini bukan hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga menyegarkan pikiran dan mempererat relasi antar rekan kerja.Kegiatan ditutup dengan foto bersama—momen sederhana yang menyimpan cerita tentang disiplin, kekompakan, dan tekad untuk hidup lebih sehat. Keringat yang menetes pagi ini adalah bukti usaha, dan tawa yang terukir adalah hasil dari kebersamaan.114-1024x683.jpeg 120.37 KB

Bugar Bersama Elsa Gelombang 3
Kebugaran Karyawan RS Santa Elisabeth sebagai Wujud Komitmen Pelayanan PrimaDalam upaya menjaga kualitas pelayanan kesehatan yang optimal, Rumah Sakit Santa Elisabeth (RSSE) secara konsisten menaruh perhatian pada kebugaran dan kesehatan para karyawannya. Karyawan yang sehat dan bugar merupakan aset penting rumah sakit, karena secara langsung berpengaruh terhadap produktivitas, keselamatan kerja, serta mutu pelayanan kepada pasien.Salah satu bentuk nyata komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan kebugaran bersama yang melibatkan karyawan lintas unit dan profesi. Kegiatan seperti jalan sehat dan olahraga bersama dilaksanakan dengan penuh semangat, kebersamaan, dan suasana kekeluargaan. Aktivitas ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kebugaran fisik, tetapi juga menjadi sarana pelepas penat dari rutinitas kerja sehari-hari.WhatsApp-Image-2026-01-28-at-08.12.14-576x1024.jpeg 176.83 KBWhatsApp-Image-2026-01-28-at-08.12.37-576x1024.jpeg 136.71 KBKegiatan kebugaran dilaksanakan di lingkungan sekitar masyarakat, sehingga sekaligus mempererat hubungan sosial antar karyawan serta menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Dengan menggunakan atribut kerja dan tanda pengenal, para karyawan tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan dengan tetap menjunjung nilai disiplin dan keselamatan.Selain manfaat fisik seperti meningkatkan stamina, kebugaran jantung, dan daya tahan tubuh, kegiatan ini juga memberikan dampak positif terhadap kesehatan mental. Interaksi yang hangat, canda tawa, serta kerja sama antar karyawan terbukti mampu meningkatkan semangat kerja, kekompakan tim, dan rasa memiliki terhadap institusi.Manajemen RS Santa Elisabeth memandang bahwa budaya hidup sehat harus dimulai dari internal rumah sakit. Oleh karena itu, kegiatan kebugaran karyawan diharapkan menjadi agenda berkelanjutan dan bagian dari promosi kesehatan di tempat kerja (workplace health promotion). Langkah ini sejalan dengan upaya rumah sakit dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat, aman, dan produktif.Melalui karyawan yang sehat dan bugar, RS Santa Elisabeth optimis dapat terus memberikan pelayanan kesehatan yang profesional, humanis, dan berorientasi pada keselamatan pasien. Karena bagi RS Santa Elisabeth, merawat kesehatan karyawan berarti menyiapkan pelayanan terbaik bagi masyarakat.WhatsApp-Image-2026-01-28-at-08.15.31-1024x471.jpeg 104.79 KBRafael Bayu C
