Artikel & Berita

Malaria: Ancaman yang Masih Nyata — Mengapa Kita Masih Lengah?
Setiap tanggal 25 April, dunia memperingati Hari Malaria Sedunia sebagai pengingat bahwa meskipun penyakit ini telah dikenal sejak lama, malaria masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan global, terutama di negara tropis seperti Indonesia.Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk betina dari genus Anopheles. Ketika nyamuk yang terinfeksi menggigit manusia, parasit masuk ke dalam aliran darah dan kemudian menuju hati sebelum akhirnya menginfeksi sel darah merah. Proses inilah yang menjadi dasar munculnya berbagai gejala klinis malaria.Terdapat beberapa jenis malaria yang dibedakan berdasarkan spesies parasit penyebabnya. Yang paling sering ditemukan adalah Plasmodium falciparum, yang dikenal sebagai penyebab malaria berat dan berpotensi fatal. Selain itu, terdapat Plasmodium vivax, yang sering menyebabkan kekambuhan karena parasit dapat “bersembunyi” di hati dalam bentuk dorman. Jenis lainnya seperti Plasmodium malariae dan Plasmodium ovale umumnya menyebabkan gejala yang lebih ringan, meskipun tetap memerlukan penanganan yang tepat.Gejala malaria seringkali dimulai dengan demam yang muncul secara periodik, disertai menggigil hebat, berkeringat, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan. Pola demam ini khas karena mengikuti siklus pecahnya sel darah merah yang terinfeksi parasit. Pada kasus yang lebih berat, terutama akibat Plasmodium falciparum, kondisi dapat berkembang menjadi komplikasi serius seperti anemia berat, gangguan kesadaran (malaria serebral), gagal ginjal, hingga kematian.Yang membuat malaria tetap berbahaya adalah kemampuannya berkembang cepat bila tidak segera ditangani. Oleh karena itu, diagnosis dini menjadi kunci. Pemeriksaan laboratorium seperti apusan darah tebal dan tipis masih menjadi standar emas untuk mengidentifikasi parasit. Saat ini, rapid diagnostic test (RDT) juga banyak digunakan untuk deteksi cepat di lapangan.Penanganan malaria telah mengalami banyak perkembangan. Terapi utama saat ini adalah penggunaan obat antimalaria berbasis kombinasi artemisinin (ACT), yang terbukti efektif melawan sebagian besar spesies Plasmodium. Pemilihan regimen terapi disesuaikan dengan jenis parasit, tingkat keparahan, serta kondisi pasien. Pada kasus malaria berat, terapi harus diberikan secara intravena di fasilitas kesehatan dengan pemantauan ketat.Namun, pengobatan saja tidak cukup. Upaya pencegahan memegang peranan yang sangat penting dalam menekan angka kejadian malaria. Penggunaan kelambu berinsektisida, penyemprotan rumah dengan insektisida residual, serta pengendalian lingkungan untuk mengurangi tempat berkembang biaknya nyamuk merupakan langkah-langkah yang telah terbukti efektif. Selain itu, penggunaan obat profilaksis pada kelompok berisiko tinggi juga dapat dipertimbangkan.Di tingkat global, World Health Organization melaporkan bahwa ratusan juta kasus malaria masih terjadi setiap tahunnya, dengan angka kematian yang signifikan, terutama pada anak-anak di wilayah Afrika Sub-Sahara. Indonesia sendiri masih menghadapi tantangan dalam eliminasi malaria, meskipun beberapa daerah telah berhasil mencapai status bebas malaria.Kondisi lingkungan, perubahan iklim, mobilitas penduduk, serta resistensi terhadap obat dan insektisida menjadi faktor yang terus mempersulit upaya pengendalian malaria. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan harus bersifat komprehensif, melibatkan sektor kesehatan, lingkungan, dan masyarakat.Hari Malaria Sedunia bukan hanya sekadar peringatan, tetapi juga ajakan untuk terus meningkatkan kesadaran dan komitmen dalam melawan penyakit ini. Malaria bukanlah penyakit masa lalu. Ia masih ada, masih mengancam, dan masih membutuhkan perhatian kita semua.Malaria tidak menunggu. Maka kesadaran, pencegahan, dan tindakan kita juga tidak boleh terlambat.drg. Sukma Paramastri, Sp.KGPKRS

Setiap tahun, dunia memperingati Hari Bising Sedunia sebagai pengingat bahwa suara yang sering kita anggap biasa dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan jika melebihi batas aman. Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi kendaraan, mesin, musik keras, hingga aktivitas industri, paparan bising telah menjadi bagian dari keseharian yang sering diabaikan.Secara ilmiah, bising didefinisikan sebagai suara yang tidak diinginkan dan berpotensi mengganggu kesehatan serta kenyamanan. Tidak semua suara berbahaya, tetapi ketika intensitasnya tinggi dan berlangsung lama, dampaknya bisa melampaui sekadar gangguan—bahkan hingga merusak fungsi tubuh.Apa Itu Bising dan Bagaimana Dampaknya? Bising diukur dalam satuan desibel (dB). Organisasi seperti World Health Organization menetapkan bahwa paparan suara di atas 85 dB dalam waktu lama dapat menyebabkan gangguan pendengaran.Namun, dampak bising tidak hanya terbatas pada telinga. Paparan kronis dapat memengaruhi:• Sistem saraf (menyebabkan stres dan kecemasan)• Sistem kardiovaskular (meningkatkan risiko hipertensi)• Kualitas tidur (gangguan tidur kronis)• Konsentrasi dan produktivitasDengan kata lain, bising adalah masalah kesehatan sistemik, bukan hanya gangguan lokal pada telinga.Jenis-Jenis BisingBising dapat diklasifikasikan berdasarkan karakteristiknya:1. Bising kontinuSuara yang berlangsung terus-menerus, seperti mesin industri.2. Bising intermitenSuara yang muncul dan hilang, seperti lalu lintas kendaraan.3. Bising impulsifSuara mendadak dengan intensitas tinggi, seperti ledakan atau petasan.4. Bising frekuensi rendah dan tinggiMasing-masing memiliki dampak berbeda terhadap persepsi dan kenyamanan manusia.Kondisi Klinis Akibat Bising Paparan bising yang berlebihan dapat menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai Noise-Induced Hearing Loss (NIHL), yaitu gangguan pendengaran akibat kerusakan sel rambut di koklea yang bersifat permanen.Gejala awal sering kali tidak disadari, seperti:• Telinga berdenging (tinnitus)• Kesulitan mendengar percakapan di tempat ramai• Penurunan sensitivitas terhadap suara frekuensi tinggiJika paparan terus berlanjut, kerusakan menjadi irreversibel.Seberapa Besar Masalah Ini?Menurut data global dari World Health Organization:• Lebih dari 1 miliar remaja dan dewasa muda berisiko mengalami gangguan pendengaran akibat paparan bising• Sekitar 430 juta orang di dunia hidup dengan gangguan pendengaran yang signifikan• Paparan bising lingkungan (lalu lintas, urbanisasi) menjadi salah satu faktor utamaDi negara berkembang, termasuk Indonesia, angka ini berpotensi lebih tinggi karena kurangnya kesadaran dan perlindungan terhadap paparan bising.Penanganan dan ManajemenPenanganan gangguan akibat bising bergantung pada tingkat keparahan:1. Deteksi dinio Pemeriksaan audiometrio Skrining pada populasi berisiko2. Intervensi mediso Terapi suportifo Alat bantu dengar pada kasus berat3. Rehabilitasio Pelatihan komunikasio Edukasi pasienNamun perlu dipahami, pada banyak kasus, kerusakan pendengaran akibat bising tidak dapat dipulihkan sepenuhnya.Antisipasi dan PencegahanPencegahan adalah kunci utama. Beberapa langkah yang dapat dilakukan:• Menggunakan pelindung telinga (earplug/earmuff) di lingkungan bising• Membatasi penggunaan earphone dengan volume tinggi• Mengatur durasi paparan suara• Menerapkan regulasi kebisingan di lingkungan kerja• Edukasi masyarakat sejak diniKonsep sederhana yang sering digunakan adalah aturan 60/60: mendengarkan audio maksimal 60% volume selama tidak lebih dari 60 menit.Makna Hari Bising Sedunia Hari Bising Sedunia bukan hanya tentang mengurangi suara, tetapi tentang menjaga kualitas hidup. Di era modern, kita tidak bisa sepenuhnya menghindari bising, tetapi kita bisa mengelolanya. Kesadaran menjadi langkah pertama. Karena sering kali, kerusakan terjadi bukan karena kita tidak tahu, tetapi karena kita tidak menyadari dampaknya sejak awal. Bising mungkin tidak terlihat, tetapi dampaknya nyata dan dapat berlangsung seumur hidup. Setiap suara yang terlalu keras, setiap paparan yang terlalu lama, perlahan mengikis kemampuan kita untuk mendengar dunia dengan jelas."Hari ini, kita punya pilihan: mengabaikan, atau mulai melindungi. Karena menjaga pendengaran bukan hanya tentang telinga tetapi tentang mempertahankan kualitas hidup, komunikasi, dan koneksi kita dengan dunia di sekitar."drg. Sukma Paramastri, Sp.KGPKRS
Dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, telah diselenggarakan Webinar Nasional dengan tema “Tata Laksana Acute Coronary Syndrome (ACS)” pada Rabu, 15 April 2026 secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini ditujukan bagi tenaga kesehatan yang meliputi dokter umum, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, serta perawat. Webinar ini menjadi sarana edukasi dan pengembangan kompetensi dalam penanganan pasien Acute Coronary Syndrome (ACS) secara komprehensif dan berbasis bukti ilmiah.Profil Webinar ACS.JPG 2.26 MB Acute Coronary Syndrome (ACS) merupakan kondisi kegawatdaruratan yang memerlukan penanganan cepat, tepat, dan terintegrasi guna menurunkan angka morbiditas dan mortalitas. Oleh karena itu, pemahaman yang baik terkait tata laksana medis dan asuhan keperawatan sangat diperlukan. Materi pertama disampaikan oleh dr. Steven Setiawan, Sp.JP selaku Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan mengenai ACS, Etiologi ACS, Faktor Risiko ACS, Patofisiologi ACS, Konsep Golden Time pada ACS, Manifestasi Klinis ACS, Diagnosis Dini dalam Golden Timen, Penatalaksanaa ACS. Ditekankan pentingnya prinsip time is muscle, di mana kecepatan penanganan sangat menentukan prognosis pasien. Selain itu, dibahas pula terapi farmakologis serta tindakan reperfusi sebagai bagian utama dalam penanganan ACS. Selanjutnya, Eva Marti, S.Kep., Ns., M.Kep, dosen STIKes Panti Rapih Yogyakarta, menyampaikan materi terkait penerapan evidence-based nursing (EBN) melalui asuhan keperawatan berbasis pendekatan 4S, yaitu SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia), serta SPO (Standar Prosedur Operasional) pada pasien ACS. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan mutu asuhan keperawatan yang sistematis, terukur, dan sesuai standar. Materi ketiga disampaikan oleh Agustina Rahmawati, S.Kep., Ns, perawat dari RS Santa Elisabeth, yang membahas penerapan evidence-based nursing melalui teknik thermotherapy untuk membantu mengurangi nyeri dada pada pasien dengan ACS. Intervensi ini merupakan salah satu terapi non-farmakologis yang dapat digunakan sebagai upaya pendukung dalam meningkatkan kenyamanan pasien. Kegiatan ini dipandu oleh moderator Siska Mastifa, S.Kep., Ns, perawat dari RS Santa Elisabeth, yang memastikan jalannya diskusi berlangsung interaktif dan terarah. Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya sesi tanya jawab yang menunjukkan tingginya minat terhadap topik yang dibahas.Webinar ACS (1).JPG 2.34 MB Melalui kegiatan webinar ini, diharapkan tenaga kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam penanganan Acute Coronary Syndrome secara cepat, tepat, dan berbasis bukti, sehingga mampu memberikan pelayanan kesehatan yang optimal dan berkualitas bagi masyarakat.PKRS

Misa Syukur HUT ke-96 RS Santa Elisabeth: Teman Seperjalanan dalam Pelayanan Penuh Kasih
Pada tanggal 4 April 2026, Rumah Sakit Santa Elisabeth merayakan hari ulang tahun ke-96, sebagai bentuk dedikasi panjang dalam melayani masyarakat. Mensyukuri perjalanan tersebut, RS Santa Elisabeth menyelenggarakan acara Puncak perayaan pada 10 April 2026 dengan mengusung tema “Teman Seperjalanan dalam Pelayanan Penuh Kasih”. Acara ini dihadiri oleh perwakilan dari RS Panti Rapih, RS Panti Rahayu, RS Panti Rini, RS Panti Nugroho, STIKes Panti Rapih serta segenap staf, karyawan, dan tamu undangan yang telah menjadi bagian dari sejarah perjalanan rumah sakit.Perayaan Ekaristi Misa Syukur.JPG 1.18 MBRangkaian acara dibuka dengan Perayaan Ekaristi Misa Syukur yang berlangsung secara khidmat, dan dipimpin oleh Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Agung Semarang, Romo FX. Sugiyana, Pr, dengan didampingi oleh Romo Paroki Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran, Romo Yakobus Sudarmadi, Pr.Penghargaan 25 tahun berkarya.JPG 1.21 MBMemasuki sesi ramah tamah, Direktur RS Santa Elisabeth menyampaikan sambutannya yang merefleksikan perjalanan panjang rumah sakit. Salah satu momen yang paling dinantikan adalah pemberian Penghargaan bagi karyawan yang telah mendedikasikan hidupnya selama 25 tahun berkarya. Penghargaan berupa penyematan lencana, penyerahan SK, dan logam mulia kepada dr. Tandean Arif Wibowo, M.P.H., Ibu Erni Widiastuti, dan Ibu M.V. Dyah Taufika Sari, AMD.Farm. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Ketua Pengurus Yayasan Panti Rapih, Ir. Ambrosius Koesmargono, MCM, Ph.D., dan didampingi oleh Sekretaris Pengurus Yayasan, Sr. Birgitta Diah Yuliati, CB, M.P.H.Simbolis Potong Tumpeng.JPG 1.15 MBSebagai ungkapan syukur yang utama, dilakukan prosesi Pemotongan tumpeng oleh Romo Romo Yakobus Sudarmadi, Pr bersama Ir. Ambrosius Koesmargono, MCM, Ph.D. Potongan tumpeng tersebut diserahkan secara simbolis kepada Direktur RS Santa Elisabeth, dr. Tandean Arif Wibowo, M.P.H., dan Wakil Direktur, Sr. Adelaida Somi CB, BSN yang disambut dengan tepuk tangan meriah dari seluruh hadirin.Pemenang Lomba HUT RS Santa Elisabeth.JPG 1.09 MBSuasana kebersamaan semakin lengkap saat seluruh undangan menikmati hidangan bersama sembari berbincang akrab, memperkuat ikatan persaudaraan antar unit dan antar karyawan. Menjelang akhir acara, keceriaan memuncak saat panitia membagikan hadiah bagi para Pemenang lomba yang telah digelar untuk menyemarakkan HUT ke-96 ini.Kebersamaan.jpg 5.23 MBPerayaan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum bagi RS Santa Elisabeth untuk memperbarui komitmennya. Dengan semangat yang baru, RS Santa Elisabeth siap melangkah maju untuk terus menjadi teman seperjalanan bagi masyarakat dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang bermutu, tulus, dan penuh kasih demi peningkatan kualitas hidup sesama. PKRS

Langkah Sehat di Bawah Langit Pagi
Pagi ini terasa berbeda. Udara segar menyambut langkah-langkah penuh semangat para peserta kebugaran yang berkumpul sejak matahari mulai naik perlahan di ufuk timur. Senyum, tawa, dan sapaan hangat menjadi pembuka yang sederhana namun penuh makna—hari ini bukan sekadar tentang olahraga, tetapi tentang kebersamaan dan komitmen menjaga kesehatan.11-edited.jpeg 141.46 KBKegiatan diawali dengan pemeriksaan kesehatan sederhana. Beberapa peserta tampak memeriksa tekanan darah dan denyut nadi, memastikan tubuh dalam kondisi prima sebelum beraktivitas. Suasana di dalam ruangan penuh interaksi hangat—saling membantu, saling mendukung, dan saling mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan sebagai investasi jangka panjang.Setelah itu, langkah kaki mulai menyusuri jalanan yang masih basah oleh embun pagi. Hamparan hijau persawahan dan langit biru yang cerah menjadi latar sempurna untuk bergerak aktif. Ada yang berjalan santai, ada yang berlari kecil, semuanya dengan ritme dan kemampuan masing-masing. Yang terpenting bukanlah seberapa cepat melangkah, tetapi bagaimana setiap orang berusaha konsisten menjaga kebugaran.23-776x1024.jpeg 159.21 KBDi tengah perjalanan, semangat semakin terasa. Beberapa peserta tersenyum lebar sambil melambaikan tangan ke arah kamera, sebagian lainnya tetap fokus menjaga napas dan langkah. Energi positif menyebar, menciptakan suasana yang menyenangkan dan membangun motivasi bersama. Aktivitas fisik di alam terbuka seperti ini bukan hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga menyegarkan pikiran dan mempererat relasi antar rekan kerja.Kegiatan ditutup dengan foto bersama—momen sederhana yang menyimpan cerita tentang disiplin, kekompakan, dan tekad untuk hidup lebih sehat. Keringat yang menetes pagi ini adalah bukti usaha, dan tawa yang terukir adalah hasil dari kebersamaan.114-1024x683.jpeg 120.37 KB

Bugar Bersama Elsa Gelombang 3
Kebugaran Karyawan RS Santa Elisabeth sebagai Wujud Komitmen Pelayanan PrimaDalam upaya menjaga kualitas pelayanan kesehatan yang optimal, Rumah Sakit Santa Elisabeth (RSSE) secara konsisten menaruh perhatian pada kebugaran dan kesehatan para karyawannya. Karyawan yang sehat dan bugar merupakan aset penting rumah sakit, karena secara langsung berpengaruh terhadap produktivitas, keselamatan kerja, serta mutu pelayanan kepada pasien.Salah satu bentuk nyata komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan kebugaran bersama yang melibatkan karyawan lintas unit dan profesi. Kegiatan seperti jalan sehat dan olahraga bersama dilaksanakan dengan penuh semangat, kebersamaan, dan suasana kekeluargaan. Aktivitas ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kebugaran fisik, tetapi juga menjadi sarana pelepas penat dari rutinitas kerja sehari-hari.WhatsApp-Image-2026-01-28-at-08.12.14-576x1024.jpeg 176.83 KBWhatsApp-Image-2026-01-28-at-08.12.37-576x1024.jpeg 136.71 KBKegiatan kebugaran dilaksanakan di lingkungan sekitar masyarakat, sehingga sekaligus mempererat hubungan sosial antar karyawan serta menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Dengan menggunakan atribut kerja dan tanda pengenal, para karyawan tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan dengan tetap menjunjung nilai disiplin dan keselamatan.Selain manfaat fisik seperti meningkatkan stamina, kebugaran jantung, dan daya tahan tubuh, kegiatan ini juga memberikan dampak positif terhadap kesehatan mental. Interaksi yang hangat, canda tawa, serta kerja sama antar karyawan terbukti mampu meningkatkan semangat kerja, kekompakan tim, dan rasa memiliki terhadap institusi.Manajemen RS Santa Elisabeth memandang bahwa budaya hidup sehat harus dimulai dari internal rumah sakit. Oleh karena itu, kegiatan kebugaran karyawan diharapkan menjadi agenda berkelanjutan dan bagian dari promosi kesehatan di tempat kerja (workplace health promotion). Langkah ini sejalan dengan upaya rumah sakit dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat, aman, dan produktif.Melalui karyawan yang sehat dan bugar, RS Santa Elisabeth optimis dapat terus memberikan pelayanan kesehatan yang profesional, humanis, dan berorientasi pada keselamatan pasien. Karena bagi RS Santa Elisabeth, merawat kesehatan karyawan berarti menyiapkan pelayanan terbaik bagi masyarakat.WhatsApp-Image-2026-01-28-at-08.15.31-1024x471.jpeg 104.79 KBRafael Bayu C

Waspada “Superflu” pada Anak: Lebih dari Sekadar Flu Biasa
Istilah superflu belakangan ini banyak dibicarakan, terutama di kalangan orang tua. Superflu merujuk pada infeksi yang disebabkan oleh varian terbaru virus Influenza A subtipe H3N2, yang dikenal sebagai subclade K. Meski mengalami perubahan genetik dibandingkan varian sebelumnya, hingga saat ini belum ditemukan bukti bahwa varian ini lebih berbahaya. Namun, karena penyebarannya tergolong cepat, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan.Di negara beriklim tropis seperti Indonesia, virus influenza dapat beredar sepanjang tahun. Sejak September 2025, virus H3N2 dilaporkan mulai mendominasi dan menggantikan jenis influenza lain, seperti H1N1.Anak Lebih Rentan TerinfeksiAnak-anak memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih berkembang, sehingga belum sepenuhnya memiliki perlindungan terhadap varian virus baru. Aktivitas anak di lingkungan sekolah dan tempat bermain yang padat juga meningkatkan risiko penularan antarindividu.Cara Penularan SuperfluVirus H3N2 menular dengan cara yang sama seperti influenza pada umumnya, yaitu melalui:Percikan droplet, yang keluar saat penderita batuk, bersin, atau berbicaraKontak langsung, seperti berjabat tangan atau bersentuhan dengan penderitaKontak tidak langsung, melalui benda yang terkontaminasi virus, seperti mainan, gagang pintu, atau peralatan makan, kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulutGejala yang Perlu DiperhatikanInfeksi superflu umumnya muncul secara mendadak dan dapat disertai beberapa keluhan berikut:Demam tinggi, yang dapat meningkat hingga 39°C atau lebihNyeri otot dan sendi, membuat anak tampak rewel atau mudah menangisBatuk kering dan nyeri tenggorokan, disertai rasa tidak nyaman saat menelan dan napas terasa beratKelelahan yang berat, anak terlihat lemas, enggan makan, dan tidak beraktivitas seperti biasaKeluhan saluran cerna, seperti mual, muntah, atau diareLangkah Pencegahan yang DianjurkanUntuk menurunkan risiko penularan superflu, orang tua dapat melakukan beberapa upaya berikut:Melakukan vaksinasi influenza secara rutin setiap tahunMembiasakan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detikMenerapkan etika batuk dan bersin dengan menutup mulut menggunakan siku bagian dalamMenggunakan masker, terutama bagi anak usia di atas 5 tahun saat berada di tempat umumMenghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakitMenjaga daya tahan tubuh anak, melalui asupan gizi seimbang, cairan yang cukup, dan istirahat yang memadaiPenanganan Awal di RumahApabila anak mulai menunjukkan gejala superflu, orang tua diimbau untuk tetap tenang dan melakukan penanganan awal sebagai berikut:Memberikan waktu istirahat yang cukup agar sistem imun bekerja optimalMemastikan kecukupan cairan, seperti ASI, susu, air putih, sup hangat, oralit, atau jus buah (untuk anak usia di atas 1 tahun)Memberikan obat penurun panas, seperti paracetamol sesuai dosis berat badanMelakukan isolasi sementara, guna mencegah penularan kepada anggota keluarga lainnyaMemantau tanda bahaya, seperti sesak napas atau tanda dehidrasi (jarang buang air kecil, tampak sangat lemas), dan segera membawa anak ke fasilitas kesehatanPerlu diingat bahwa superflu disebabkan oleh virus, sehingga antibiotik tidak dianjurkan, kecuali atas indikasi dan resep dokter bila terdapat infeksi bakteri tambahan.Kapan Perlu Berkonsultasi ke Dokter?Segera periksakan anak ke dokter apabila demam tidak membaik dalam waktu tiga hari, muncul tanda bahaya, atau bila anak memiliki riwayat penyakit kronis seperti asma.

Healing Garden RS Santa Elisabeth Ganjuran
Healing Garden RS Santa Elisabeth Ganjuran: Ruang Penyembuhan yang Menyentuh Jiwa dan RagaHealing Garden RS Santa Elisabeth Ganjuran merupakan salah satu sarana terapi holistik yang dirancang untuk mendukung proses penyembuhan pasien secara psikis dan fisik. Kehadiran taman hijau di area rumah sakit ini menjadi alternatif ruang pemulihan yang menghadirkan suasana berbeda dari rutinitas perawatan medis di dalam ruangan.Melalui Healing Garden, pasien tidak hanya disuguhkan pemandangan dinding tembok dan tirai kamar, tetapi diajak untuk merasakan keasrian alam secara langsung. Menghirup udara segar, merasakan hangatnya sinar matahari, mendengarkan kicauan burung, serta menikmati keindahan flora dan fauna menjadi pengalaman yang membantu menenangkan pikiran dan memperkuat semangat sembuh.Aktivitas Healing Garden yang Interaktif dan MenyenangkanKegiatan Healing Garden tidak hanya berfokus pada relaksasi, tetapi juga diisi dengan edukasi kesehatan interaktif yang melibatkan dokter dan tenaga medis bersama pasien, keluarga, serta pengunjung rumah sakit. Edukasi disampaikan dengan pendekatan yang ringan dan komunikatif sehingga mudah dipahami serta memberikan dampak positif bagi perubahan perilaku hidup sehat.Suasana kegiatan dibuat semakin menyenangkan melalui hiburan berupa permainan, kuis, dan musik. Dalam kebersamaan tersebut, pasien, keluarga, dan staf rumah sakit dapat bernyanyi bersama sebagai sarana saling menghibur, menguatkan, dan membangun ikatan emosional yang positif. Kehangatan interaksi ini menjadi bagian penting dalam proses penyembuhan secara menyeluruh.IMG_3944-1024x683.jpg 133.66 KBIMG_3959-1024x683.jpg 164.17 KBKarakteristik Healing Garden RS Santa Elisabeth GanjuranHealing Garden RS Santa Elisabeth Ganjuran dirancang sebagai ruang terbuka yang ramah, inklusif, dan menenangkan. Taman ini mengedepankan nilai kebersamaan, kenyamanan, serta kedekatan dengan alam sebagai bagian dari pendekatan pelayanan kesehatan yang berpusat pada manusia.Penjabaran Visi Rumah Sakit“Pelayanan Tulus dengan Hati Penuh Kasih”Healing Garden menjadi perwujudan nyata dari visi RS Santa Elisabeth Ganjuran. Melalui pelayanan yang tidak hanya berfokus pada aspek klinis, rumah sakit menghadirkan sentuhan kasih, empati, dan kepedulian terhadap kondisi psikologis pasien dan keluarganya.TujuanMemberikan hiburan yang menenangkan dan membangkitkan semangat pasienMenyediakan edukasi kesehatan secara interaktif dan humanisMembantu mempercepat proses kesembuhan pasien dengan mendorong kekuatan penyembuhan dari dalam diri sendiriKonsepHealing Garden mengusung konsep terapi holistik yang memadukan pengobatan medis dengan pendekatan natural atau alam. Konsep ini menggabungkan stimulasi seluruh pancaindra melalui alunan musik atau lagu, kehangatan sinar matahari, udara segar, keindahan lingkungan taman yang hijau dan asri, serta kebersamaan keluarga sebagai sumber dukungan emosional.SasaranPasien rawat inapPasien rawat jalanKeluarga pasien dan pengantarPengunjung rumah sakitLokasiKegiatan Healing Garden dilaksanakan di Area Taman Barat atau area terbuka hijau lainnya di lingkungan RS Santa Elisabeth Ganjuran.

Hari Orang Sakit Sedunia 2026
Hari Orang Sakit Sedunia (World Day of the Sick) yang ditetapkan oleh Santo Yohanes Paulus II pada tahun 1992, menjadi momen istimewa bagi rumah sakit dan Gereja untuk berdoa, berefleksi serta memperbaharui komitmen pelayanan kepada orang sakit.Terdapat tiga subtema yang senantiasa diharapkan dan diingatkan kepada seluruh umat beriman. Pertama, untuk selalu mengajak berdoa secara khusyuk bagi mereka yang sedang sakit. Kedua, merefleksikan makna sakit dan penderitaan, serta menyadari bahwa kesehatan sebagai anugerah Tuhan. Ketiga, memberikan apresiasi kepada semua pihak yang dengan setia dan selalu mengupayakan pelayanan kesehatan.IMG_3858-1024x683.jpg 89.04 KBHari Orang Sakit Sedunia ke-34 yang dirayakan pada tanggal 11 Februari 2026, mengangkat tema; Belarasa Orang Samaria: Mengasihi dengan Menanggung Derita Orang Lain.Di tengah dunia yang serba cepat, banyak orang yang terluka secara fisik, mental, maupun rohani justru terlewatkan. Kesibukan seringkali membuat kita lupa berhenti sejenak untuk melihat siapa yang membutuhkan uluran tangan. Kisah Orang Samaria yang baik hati mengingatkan bahwa inti iman bukan hanya doa dan ibadat, melainkan keberanian untuk hadi, mendekat dan mengasihi mereka yang menderita.(Anugerah perjumpaan: sukacita berbagi kedekatan dan kehadiran)Belarasa berarti lebih dari sekadar merasa iba. Belarasa adalah Keputusan sadar untuk mendekat, merawat, dan menanggung sebagian beban penderitaan sesama. Seperti Orang Samaria, kita dipanggil bukan hanya menjadi penonton, tetapi menjadi sesama bagi siapa pun yang terluka di sepanjang jalan kehidupan. (Perutusan bersama untuk merawat orang sakit)IMG_3837-1-1024x683.jpg 107.99 KBKita dapat memulainya dari hal sederhana: menyapa mereka yang kesepian (sendiri karena sakit), mendampingi yang sakit, serta memberi waktu, perhatian, dan kasih. Saat kita berani berhenti, mendekat, dan merawat, di sanalah kasih Allah menjadi nyata. Belarasa bukan sekedar teori, melainkan tindakan kasih yang mengubah dunia, dimulai dari langkah kecil yang kita lakukan hari ini. (Selalu digerakkan oleh kasih kepada Allah, untuk berjumpa dengan diri sendiri dan sesama)Dalam rangka memperingati HOSS ke-34, RS Santa Elisabeth Ganjuran menyelenggarakan rangkaian kegiatan: Diawali kegiatan Home care /kunjungan kepada pasien yang memerlukan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan serta pemberian Sakramen Perminyakan Suci oleh Romo Paroki Gereja Hati Kudus Yesus selama beberapa hari di area lingkungan Paroki.IMG_3879-1024x683.jpg 115.83 KBPada tanggal 11 Februari 2026, dilakukan doa bersama dan Misa Syukur yang disertai Sakramen Pengurapan Orang Sakit atau Sakramen Perminyakan Suci. Perayaan ini dipimpin oleh Romo L. Dwi Agus Merdi, Pr. Kegiatn dilanjutkan dengan pembagian suvenir rohani kepada para pasien RS Santa Elisabeth Ganjuran oleh Direktur RS Santa Elisabeth Ganjuran, dr Tandean Arif Wibowo.Penulis dr.Tandean Arif Wibowo, M.P.H
