Artikel & Berita

Kenali Tanda Bahaya Kehamilan dan Manfaat Prenatal Yoga bagi Ibu Hamil
Kehamilan merupakan proses alami yang membawa banyak perubahan pada tubuh ibu. Sebagian besar keluhan yang muncul selama kehamilan merupakan hal yang normal, namun ada beberapa kondisi yang menjadi tanda bahaya dan memerlukan penanganan medis segera. Selain itu, ibu hamil juga perlu menjaga kesehatan fisik dan mental agar kehamilan berjalan dengan baik, salah satunya melalui prenatal yoga. Tanda Bahaya Kehamilan yang Perlu DiwaspadaiIbu hamil perlu segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami beberapa kondisi berikut:Mual dan muntah berlebihan, hingga tidak dapat makan dan minum, yang dapat menyebabkan dehidrasi dan kekurangan gizi. Demam tinggi (≥38°C) yang dapat menjadi tanda adanya infeksi dan berisiko bagi ibu maupun janin. Pergerakan janin berkurang, yaitu kurang dari 10 kali dalam dua jam, yang dapat menandakan janin mengalami gangguan. Pembengkakan pada wajah, tangan, dan kaki, terutama jika disertai pandangan kabur dan nyeri ulu hati, karena dapat menjadi tanda preeklampsia. Perdarahan saat kehamilan, baik sedikit maupun banyak, yang dapat menandakan keguguran atau komplikasi kehamilan lainnya. Air ketuban pecah sebelum waktunya, yang dapat meningkatkan risiko infeksi dan persalinan prematur. Keluhan yang Umum Dialami Ibu HamilSelain tanda bahaya, beberapa keluhan yang sering dialami ibu hamil antara lain nyeri punggung bawah, nyeri panggul, kram kaki, sulit tidur, sesak napas ringan, sembelit, serta stres dan kecemasan. Keluhan tersebut umumnya terjadi akibat perubahan hormon dan perubahan postur tubuh selama kehamilan. Prenatal Yoga untuk Kehamilan yang SehatPrenatal yoga merupakan latihan yang dirancang khusus untuk ibu hamil dengan menggabungkan gerakan tubuh, teknik pernapasan, relaksasi, dan meditasi. Latihan ini bertujuan untuk menjaga kebugaran selama kehamilan, mengurangi ketidaknyamanan fisik, membantu persiapan persalinan, serta mendukung kesehatan mental ibu hamil. Manfaat Prenatal YogaBeberapa manfaat prenatal yoga bagi ibu hamil antara lain: Mengurangi nyeri punggung bawah dan nyeri panggul. Mengurangi kram kaki dan memperbaiki kualitas tidur. Meningkatkan fleksibilitas dan keseimbangan tubuh. Mengurangi stres dan kecemasan. Meningkatkan relaksasi dan rasa percaya diri dalam menghadapi persalinan. Dengan mengenali tanda bahaya kehamilan dan rutin melakukan aktivitas sehat seperti prenatal yoga, ibu hamil dapat menjaga kesehatan diri dan janin sehingga proses kehamilan hingga persalinan dapat berlangsung dengan aman dan nyaman.
Gunungan Persembahan, Wujud Syukur dan Pelayanan: RS Santa Elisabeth Ganjuran Meriahkan Parahagyan HKTY 2026
Suasana penuh sukacita dan kebersamaan mewarnai Perayaan Parahagyan Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran pada Minggu, 21 Juni 2026. Dalam perayaan iman yang menjadi tradisi tahunan ini, RS Santa Elisabeth Ganjuran turut ambil bagian dengan mempersembahkan sebuah gunungan sebagai simbol rasa syukur, persatuan, dan semangat berbagi kepada sesama. image.png 497.16 KBSelain mempersembahkan gunungan, RS Santa Elisabeth Ganjuran juga memberikan dukungan pelayanan kesehatan melalui tim Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) yang siaga selama rangkaian kegiatan berlangsung. Keterlibatan RS Santa Elisabeth Ganjuran merupakan wujud nyata semangat pelayanan dan kepedulian kepada sesama. Tim P3K hadir untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi para peziarah dan umat yang mengikuti rangkaian kegiatan, sehingga perayaan dapat berlangsung dengan aman dan nyaman. Partisipasi ini menjadi wujud nyata komitmen RS Santa Elisabeth Ganjuran untuk terus hadir di tengah masyarakat, tidak hanya melalui pelayanan kesehatan, tetapi juga melalui keterlibatan dalam kegiatan iman, budaya, dan sosial kemasyarakatan. Semoga semangat kasih Hati Kudus Tuhan Yesus senantiasa menginspirasi kita untuk terus berbagi, melayani, dan menjadi berkat bagi sesama.https://www.instagram.com/reel/DZ4IGG7PTW9/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==-PKRS-
Sebagai upaya meningkatkan kesehatan ibu dan bayi serta mendukung penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), Puskesmas Pundong bekerja sama dengan Rumah Sakit Santa Elisabeth Ganjuran menyelenggarakan kegiatan Senam Ibu Hamil (Prenatal Yoga) pada Sabtu, 13 Juni 2026, di Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD).Kegiatan yang diikuti oleh sekitar 45 ibu hamil ini dipandu oleh dua instruktur dari RS Santa Elisabeth Ganjuran. Melalui gerakan peregangan, latihan pernapasan, dan relaksasi, para peserta diajak untuk mempersiapkan diri menghadapi persalinan dengan lebih sehat, nyaman, dan percaya diri.Kegiatan prenatal yoga ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental ibu hamil, membantu mengurangi ketidaknyamanan selama kehamilan, serta mempersiapkan ibu menghadapi proses persalinan dengan lebih optimal. Diharapkan melalui kegiatan ini, para ibu dapat menjalani kehamilan yang sehat dan siap menghadapi persalinan, sehingga turut mendukung upaya penurunan AKI dan AKB di wilayah Kapanewon Pundong.Semangat dan antusiasme para peserta menjadi bukti bahwa upaya promotif dan preventif melalui kegiatan prenatal yoga memiliki peran penting dalam meningkatkan kesehatan ibu dan bayi serta mewujudkan generasi yang sehat dan berkualitas.
Memasuki usia lanjut merupakan proses alami yang dialami setiap orang. Meskipun terjadi berbagai perubahan pada tubuh, lansia tetap dapat menjalani hidup yang sehat, aktif, dan produktif dengan menerapkan pola hidup sehat serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.Mengenal Perubahan pada Tubuh LansiaSeiring bertambahnya usia, tubuh mengalami beberapa perubahan, antara lain:Massa otot dan kekuatan tulang berkurang.Pembuluh darah menjadi lebih kaku.Daya tahan tubuh menurun.Penglihatan dan pendengaran berkurang secara bertahap.Kemampuan mengingat dan memproses informasi melambat.Metabolisme tubuh menjadi lebih lambat.Pola Makan Sehat untuk Lansia✅ Sayur dan buah minimal 5 porsi per hari.✅ Protein berkualitas seperti: Ikan, Tahu, Tempe, Ayam tanpa kulit✅ Kalsium dan vitamin D dari: Susu rendah lemak, Yogurt, Keju, Paparan sinar matahari pagi✅ Air putih yang cukup setiap hari.Batasi Konsumsi:❌ Garam berlebihan.❌ Gula berlebih.❌ Makanan tinggi lemak jenuh.❌ Makanan olahan dan instan.Olahraga yang Dianjurkan:Jalan kakiSenam lansiaBerenangBersepeda santaiYoga atau Tai ChiMenjaga Kesehatan Mental- Membaca buku.- Bermain teka-teki atau puzzle.- Menulis atau menggambar.- Bermain atau mendengarkan musik.- Berkebun.- Mempelajari hal baru.Waspadai Tanda Depresi:Sedih berkepanjangan.Kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari.Sulit tidur.Nafsu makan menurun atau meningkat drastisMenjaga Kesehatan MataGangguan mata yang sering terjadi pada lansia antara lain:1. Presbiopi (Mata Tua)2. Katarak3. GlaukomaTips Menjaga Mata:✅ Periksa mata secara berkala.✅ Gunakan pelindung sinar UV saat beraktivitas di luar ruangan.✅ Konsumsi makanan kaya vitamin dan antioksidan.Menjaga Kesehatan Gigi dan MulutMenyikat gigi 2 kali sehari.Menggunakan benang gigi.Membersihkan gigi palsu setiap hari.Memeriksakan gigi setiap 6 bulan.Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi✅ Konsumsi makanan kaya kalsium.✅ Berjemur di bawah sinar matahari pagi selama 15–20 menit.✅ Lakukan latihan fisik ringan.✅ Hindari merokok.✅ Cegah risiko jatuh di rumah.Penyakit yang Perlu Diwaspadai1. Hipertensi2. Diabetes Melitus3. Penyakit Jantung Koroner4. Stroke5. Demensia atau Alzheimer6. PPOK atau AsmaPentingnya Vaksinasi LansiaVaksin yang Dianjurkan:💉 Influenza (setiap tahun).💉 Pneumokokus.💉 Herpes Zoster.💉 Tetanus-Difteri.💉 COVID-19 sesuai anjuran.Harus Segera ke Dokter?Kondisi Darurat:🚨 Nyeri dada mendadak.🚨 Sesak napas berat.🚨 Wajah mencong atau bicara pelo.🚨 Pingsan atau penurunan kesadaran.🚨 Perdarahan yang tidak berhenti.Pesan untuk Lansia✔ Makan makanan bergizi seimbang.✔ Tetap aktif bergerak setiap hari.✔ Jaga kesehatan mental dan hubungan sosial.✔ Tidur cukup dan berkualitas.✔ Rutin memeriksakan kesehatan.✔ Minum obat sesuai anjuran dokter.Usia boleh bertambah, tetapi semangat hidup sehat tidak boleh berkurang💙Disusun oleh dr. Tandean Jeffrey Ferdinand -Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS)-

Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan tindakan pertolongan pertama yang diberikan kepada seseorang yang mengalami henti napas atau henti jantung. Penanganan yang cepat dan tepat sangat penting karena setiap menit keterlambatan dapat menurunkan peluang korban untuk bertahan hidup.Mengapa BHD Penting? Menjaga aliran darah dan pasokan oksigen ke otak serta organ vital. Mencegah kerusakan organ akibat kekurangan oksigen. Meningkatkan peluang korban untuk bertahan hidup sampai bantuan medis tiba. Kondisi yang Membutuhkan BHDHenti napas, yaitu kondisi ketika seseorang berhenti bernapas secara spontan. Henti jantung, yaitu kondisi ketika jantung berhenti memompa darah secara efektif ke seluruh tubuh. Penyebab yang Dapat Memicu Henti Napas dan Henti Jantung Sumbatan pada jalan napas, seperti benda asing atau muntahan. Gangguan pernapasan dan kekurangan oksigen. Gangguan pada otot dan saraf yang berperan dalam proses pernapasan. Langkah-Langkah Dasar Melakukan BHD (DRCAB)Danger (Bahaya): Pastikan penolong, korban, dan lingkungan dalam keadaan aman. Response (Respons): Periksa apakah korban sadar atau memberikan respons. Circulation (Sirkulasi): Periksa nadi dan lakukan kompresi dada jika diperlukan. Airway (Jalan Napas): Buka dan pastikan jalan napas tidak tersumbat. Breathing (Pernapasan): Berikan bantuan napas sesuai prosedur. Teknik Kompresi Dada yang Benar Tekan dada sedalam 5–6 cm. Kecepatan kompresi 100–120 kali per menit. Lakukan dengan rasio 30 kompresi dan 2 bantuan napas (30:2). Langkah-Langkah Bantuan Hidup Dasar (BHD) Mengamankan lingkungan sebelum melakukan pertolongan. Memastikan tingkat kesadaran pasien (Alert, Verbal, Pain, Unresponsive/AVPU). Memanggil bantuan apabila pasien tidak berespons dan mengaktifkan Code Blue dengan menyebutkan lokasi kejadian. Memeriksa nadi karotis dan pernapasan secara bersamaan. Mengambil posisi untuk kompresi sejajar dengan bahu sebelah kiri pasien. Meletakkan satu telapak tangan di pertengahan sternum dan telapak tangan lainnya di atas tangan pertama. Melakukan kompresi jantung dengan kecepatan 100–120 kali per menit, kedalaman 5–6 cm, dengan posisi siku lurus dan menggunakan beban badan. Membuka jalan napas dengan teknik head tilt-chin lift atau jaw thrust pada trauma servikal. Menghentikan kompresi apabila pasien bernapas spontan, tidak ada respons setelah 20 menit, atau bantuan tim kesehatan telah datang. Melaporkan seluruh tindakan yang telah dilakukan kepada tim medis. Kapan BHD Dihentikan? Korban sudah bernapas kembali secara spontan. Bantuan tenaga kesehatan telah tiba dan mengambil alih. Penolong sudah tidak mampu melanjutkan pertolongan. Bantuan Hidup Dasar bukan hanya keterampilan tenaga kesehatan, tetapi juga pengetahuan yang penting dimiliki setiap orang. Dengan memahami langkah-langkah BHD, kita dapat menjadi penolong pertama yang berperan dalam menyelamatkan nyawa seseorang pada situasi darurat

Avulsi adalah kondisi ketika gigi terlepas seluruhnya dari soket akibat trauma. Pada kondisi ini, waktu menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan perawatan.0–5 menit: Temukan gigi dan pegang pada bagian mahkota, bukan akar. Hindari menyentuh jaringan akar karena dapat merusak ligamen periodontal. 5–15 menit: Bilas gigi menggunakan larutan saline, susu, atau air liur, kemudian lakukan replantasi segera bila memungkinkan. 15–30 menit: Simpan gigi dalam media yang tepat, seperti susu segar, saline, atau Hank's Balanced Salt Solution (HBSS). Hindari menyimpan gigi di dalam air karena dapat merusak sel-sel pada akar gigi. 30–60 menit: Segera bawa pasien ke dokter gigi. Replantasi masih dapat dilakukan, meskipun prognosisnya sudah mulai menurun. Lebih dari 60 menit: Risiko kematian jaringan pendukung gigi semakin tinggi sehingga pilihan terapi lain mungkin perlu dipertimbangkan. Langkah 1: Anamnesis TerarahSebelum melakukan penanganan, tenaga kesehatan perlu melakukan pengkajian singkat, meliputi: Waktu dan mekanisme terjadinya trauma. Riwayat penyakit yang dimiliki pasien, seperti diabetes, osteoporosis, atau demensia. Riwayat penggunaan obat-obatan, terutama antikoagulan dan antiplatelet. Keluhan utama yang dirasakan, seperti nyeri, perdarahan, atau perubahan posisi gigi. Riwayat penggunaan gigi asli, gigi tiruan, atau implan. Kemampuan pasien untuk bekerja sama dan adanya pendamping atau caregiver. Langkah 2: Pemeriksaan Klinis SederhanaPemeriksaan yang dapat dilakukan meliputi:Pemeriksaan ekstraoral Adanya luka pada wajah dan rongga mulut. Kecurigaan fraktur rahang. Asimetri wajah dan gangguan sendi rahang. Pemeriksaan gigi Derajat kegoyangan gigi. Nyeri saat perkusi. Perubahan warna mahkota gigi. Pemeriksaan vitalitas pulpa sederhana. Pemeriksaan jaringan pendukung Kondisi gingiva dan mukosa. Kedalaman probing. Perdarahan aktif. Kondisi tulang alveolar. Pemeriksaan radiografi (bila tersedia) Foto periapikal. Foto panoramik. CBCT apabila diperlukan. Langkah 3: Pengambilan Keputusan CepatSetelah dilakukan pemeriksaan, penanganan dapat berupa:Reposisi Dilakukan pada kasus luksasi ekstrusi atau lateral. Sebaiknya dilakukan dalam 1–2 jam pertama setelah trauma. Stabilisasi Menggunakan splint fleksibel. Dilakukan sesuai kondisi dan jenis trauma. Rujukan segera Fraktur yang melibatkan pulpa. Avulsi yang memerlukan replantasi. Kecurigaan fraktur rahang atau trauma kepala. Kondisi medis pasien yang tidak stabil. Dampak terhadap Kualitas Hidup LansiaPenanganan trauma gigi yang cepat dan tepat memberikan berbagai manfaat, antara lain: Mempertahankan kemampuan mengunyah sehingga asupan nutrisi tetap terjaga. Menjaga kemampuan berbicara dan komunikasi. Mengurangi dampak psikologis akibat kehilangan gigi, seperti rasa malu dan penurunan kepercayaan diri. Mencegah komplikasi berupa infeksi dan nyeri kronis yang dapat memperburuk penyakit penyerta. KesimpulanPenanganan trauma dental pada lansia harus dilakukan secara cepat dan tepat, terutama pada kasus avulsi gigi. Prinsip golden hour, anamnesis yang terarah, pemeriksaan sederhana, serta pengambilan keputusan yang cepat dapat meningkatkan keberhasilan perawatan dan membantu mempertahankan kualitas hidup lansia. Menyelamatkan gigi pada lansia bukan hanya mempertahankan fungsi rongga mulut, tetapi juga menjaga kesehatan dan kesejahteraan mereka secara keseluruhan.

Trauma gigi pada lansia dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari dalam tubuh (intrinsik) maupun dari luar (ekstrinsik).Faktor intrinsik meliputi: Osteoporosis dan penurunan kepadatan tulang yang membuat gigi dan tulang penyangga lebih rapuh. Gangguan keseimbangan atau gangguan vestibuler yang meningkatkan risiko jatuh. Penurunan fungsi kognitif, seperti demensia, yang menyebabkan lansia kurang waspada terhadap lingkungan sekitar. Penyakit Parkinson yang dapat menyebabkan tremor dan gangguan koordinasi tubuh. Penurunan fungsi penglihatan yang meningkatkan risiko cedera akibat tersandung atau terbentur. Faktor ekstrinsik meliputi: Penggunaan obat antikoagulan atau antiplatelet. Penggunaan obat penurun tekanan darah yang dapat menyebabkan hipotensi ortostatik. Konsumsi obat penenang dan obat tidur yang mengganggu keseimbangan. Polifarmasi atau penggunaan lima jenis obat atau lebih. Lingkungan yang tidak aman, seperti lantai licin dan pencahayaan yang kurang memadai. Jenis Trauma Dental pada LansiaTrauma gigi pada lansia dapat berupa:1. Fraktur Gigi Ellis Kelas I: hanya mengenai email. Ellis Kelas II: mengenai email dan dentin. Ellis Kelas III: melibatkan pulpa. Fraktur akar, baik vertikal maupun horizontal. Fraktur mahkota dan akar. 2. Luksasi Konkusi (gigi tidak berpindah tetapi terasa nyeri). Subluksasi (gigi goyang tanpa perpindahan). Luksasi ekstrusi (gigi keluar sebagian dari soket). Luksasi intrusi (gigi masuk ke dalam soket). Luksasi lateral (gigi bergeser ke samping). 3. Avulsi Gigi terlepas seluruhnya dari soket. Keberhasilan perawatan sangat dipengaruhi oleh waktu penanganan. Risiko komplikasi berbeda pada pengguna gigi tiruan maupun implan. Dampak Trauma Dental pada LansiaTrauma gigi yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan: Gangguan mengunyah sehingga asupan nutrisi menurun. Kesulitan berbicara akibat kehilangan gigi. Gangguan psikologis, seperti rasa malu, menurunnya kepercayaan diri, dan isolasi sosial. Nyeri kronis dan risiko infeksi yang dapat memperburuk penyakit penyerta seperti diabetes dan penyakit kardiovaskular. KesimpulanTrauma gigi pada lansia bukan hanya masalah kesehatan gigi dan mulut, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan. Oleh karena itu, mengenali faktor risiko dan jenis trauma dental sejak dini sangat penting agar lansia mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat serta tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan nyaman. Materi: drg. Sukma Paramastri, Sp.KGDokter Spesialis Kesehatan Gigi-PKRS-

Pada hari Selasa, 2 Juni 2026, RS Santa Elisabeth Ganjuran menyelenggarakan kegiatan Edukasi Kesehatan Gigi di depan Poliklinik RS Santa Elisabeth Ganjuran mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini menghadirkan narasumber drg. Sukma Paramastri, Sp.KG dan Titi Nur Wahyuni, S.Tr.Kes.Mengusung tema Penatalaksanaan Trauma Dental pada Geriatri dalam Praktik Sehari-hari untuk Meningkatkan Kualitas Hidup dan Peran Terapis Gigi dan Mulut dalam Mempertahankan Fungsi Mastikasi pada Lansia Pasca Trauma, peserta diajak memahami pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut pada usia lanjut.Materi yang disampaikan meliputi faktor risiko cedera gigi pada lansia, penanganan avulsi gigi pada masa golden hour, serta pentingnya mempertahankan fungsi mengunyah untuk mendukung status gizi dan kualitas hidup. Selain itu, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai perawatan gigi dan mulut, demonstrasi menyikat gigi yang benar, serta latihan mastikasi bagi lansia.Melalui kegiatan ini, diharapkan para lansia dan keluarga semakin menyadari bahwa kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian penting dari kesehatan secara menyeluruh, sehingga lansia dapat tetap sehat, nyaman, dan menikmati masa tua dengan kualitas hidup yang lebih baik.https://www.instagram.com/reel/DZG4TX7sMzW/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==-PKRS-

Miopia atau rabun jauh merupakan kondisi ketika bayangan benda yang dilihat jatuh di depan retina, sehingga objek yang berada jauh tampak buram. Penderita miopia umumnya membutuhkan lensa minus agar dapat melihat dengan jelas. Saat ini, kasus miopia pada anak semakin meningkat seiring dengan tingginya aktivitas melihat layar dan berkurangnya waktu bermain di luar ruangan. Kenali Gejala MiopiaOrang tua perlu mewaspadai beberapa tanda yang sering muncul pada anak dengan miopia, antara lain: Pandangan jauh tampak buram. Sering memicingkan mata saat melihat. Melihat benda dari jarak yang sangat dekat. Sering mengucek mata. Mengeluh pusing atau sakit kepala. Prestasi akademik menurun karena kesulitan melihat tulisan di papan. Pentingnya Deteksi DiniPemeriksaan mata secara rutin sangat penting untuk mendeteksi miopia sejak dini. Skrining kesehatan mata pada anak dianjurkan dilakukan secara berkala, minimal satu kali dalam setahun atau sesuai anjuran dokter mata. Deteksi dini dapat membantu mencegah perburukan mata minus dan mengurangi risiko gangguan penglihatan di masa depan. Cara Mencegah MiopiaBeberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya atau memperlambat perkembangan miopia antara lain: Mengatur pencahayaan ruangan saat membaca atau belajar. Menjaga jarak baca sekitar satu lengan. Membatasi penggunaan gawai atau screen time kurang dari dua jam per hari. Memperbanyak aktivitas di luar ruangan minimal dua jam setiap hari. Pengendalian MiopiaApabila anak telah mengalami miopia, beberapa terapi dapat membantu mengendalikan perkembangannya, seperti penggunaan kacamata khusus kontrol miopia, lensa kontak tertentu, terapi Ortho-K, serta tetes mata yang diresepkan oleh dokter mata. Selain itu, penggunaan alat bantu penglihatan sesuai resep dokter sangat penting agar anak tetap dapat belajar dan beraktivitas dengan nyaman. KesimpulanMiopia bukan sekadar mata minus biasa, tetapi kondisi yang perlu mendapatkan perhatian sejak dini. Dengan mengenali gejala, melakukan pemeriksaan mata secara rutin, menerapkan kebiasaan sehat, dan melakukan pengendalian yang tepat, perkembangan miopia pada anak dapat diminimalkan sehingga kualitas penglihatan dan prestasi belajar anak tetap terjaga. Materi : dr. Sherlyta Tambing, Sp.SDokter Spesialis Syaraf Rumah Sakit Santa Elisabeth Ganjuran-PKRS-
